HomeEBOOKS AM*EBOOKS ED*EBOOKS LS*EBOOKS LG*EBOOKS GN**ARTICLES***JADWAL KULIAH.2011/2012

Minggu, 04 September 2011

Peran Bahasa Dalam Ilmu

Peran bahasa dalam ilmu erat hubungannya dengan aspek fungsional bahasa sebagai media berpikir dan media komunikasi. Sehubungan dengan itu, pembahasan tentang permasalahan ini akan disoroti dalam dua bagian: (1) hubungan bahasa dan pikiran dan (2) bahasa sebagai media komunikasi. 1. Hubungan Bahasa dan Pikiran Berpikir merupakan aktivitas mental yang tersembunyi, yang bisa disadari hanya oleh orang yang melakukan aktivitas itu. Miller (1983: 172) mengatakan: “Thinking, by all definitions, is a covert activity, witnessed only by the person in it.” Lebih jauh, Miller mengatakan bahwa tindakan berpikir sering digambarkan sebagai kegiatan berbicara pada diri sendiri (intrapersonal communication), mengamati dan memanipulasi gambar-gambar mental. Dengan kemampuan berpikirnya, manusia bisa membahas obyek-obyek dan peristiwa-peristiwa yang tidak berada atau sedang berlangsung disekitarnya. Kemampuan berpikir juga kadang-kadang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tanpa mencoba berbagai alternatif solusi secara langsung (nyata). Peran penting bahasa dalam inovasi ilmu terungkap jelas dari fungsi bahasa sebagai media berpikir. Melalui kegiatan berpikir, manusia memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan cara menghimpun dan memanipulasi ilmu dan pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, dan membayangkan. Selama melakukan aktivitas berpikir, bahasa berperan sebagai simbol-simbol (representasi mental) yang dibutuhkan untuk memikirkan hal-hal yang abstrak dan tidak diperoleh melalui penginderaan. Setiap kali seseorang sedang memikirkan seekor harimau, misalnya, dia tidak perlu menghadirkan seekor harimau dihadapannya. Makalah-makalah yang relevan, yang berfungsi sebagai representasi mental tentang harimau, sudah dapat membantunya untuk memikirkan hewan itu. Cassirer (dalam Suriasumantri, 1990: 71) mengatakan manusia adalah Animal symbolicum, mahluk yang menggunakan simbol, yang secara generik mempunyai cakupan lebih luas dari homo sapiens, mahluk yang berpikir. Tanpa kemampuan menggunakan simbol ini, kemampuan berpikir secara sistmatis dan teratur tidak dapat dilakukan. Bahasa memang tidak selalu identik dengan berpikir. Jika seseorang ditanya apa yang sedang dipikirkannya, dia akan menggambarkan pikirannya melalui bahasa.meskipun pikirannya tidak berbentuk simbol-simbol linguistik ketika dia ditanya, dia pasti mengungkapkanpikiran itu dalam bentuk simbol-simbol linguistik agar proses komunikasi dengan penanya berjalan dengan baik. Namun, meskipun bahasa tidak identik dengan berpikir, berpikir tidak dapat dilakukan tanpa bahasa. Bahkan, karakteristik bahasa yang dimiliki seseorang akan menentukan objek apa saja yang dapat dipikirkannya. Berbagai filsuf menyatakan bahwa suku-suku primitif tidak dapat memikirkan hal-hal yang ‘canggih’ bukan karena mereka tidak dapat berpikir, tetapi karena bahasa mereka tidak dapat memfasilitasi mereka untuk melakukannya (Miller, 1983: 176). Kenyataan ini terungkap jelas dalam diri mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri. Dia akan berhasil menyelesaikan studinya hanya jika dia menguasai bahasa yang digunakan dalam proses pembelajaran. Mengingat betapa pentingnya peran bahasa dalam proses ini, tidaklah berlebihan bila Tomasello (1999) menegaskan bahwa bahasa adalah fungsi kognisi tertinggi dan tidak dimiliki oleh hewan. Selaras dengan itu, pandangan berbagai antropolog budaya juga menunjukkan bahwa bahasa juga berperan dalam membentuk, mempengaruhi, dan membatasi pikiran. Penelitian tentang kemampuan mengingat warna membuktikan bahwa peserta yang bahasa ibunya memiliki kata untuk warna yang diujikan terbukti lebih mampu mengingat warnawarna tersebut. (Wikipedia, 2008). Sehubungan dengan itu, Miller (1983: 176) menegaskan: “language exerts a molding and constraining influence on thought.” Variasi pengungkapan pengalaman melalui bahasa yang berbeda sangat erat hubungannya dengan variasi pandangan hidup atau kebudayaan dalam masyarakat manusia. Karena bahasa dipelajari seseorang sejak usia dini, dan bahasa tersebut merupakan sarana utama baginya untuk mempelajari segala sesuatu, termasuk budaya dan pandangan hidup, bahasa itu akan mempengaruhi persepsinya tentang realitas. Sebagai contoh, ungkapan “Time flies”, “El reloj anda” (waktu berjalan, bahasa Spanyol) dan “Waktu berjalan” bisa dihubungkan dengan perbedaan antara persepsi orang Amerika, orang Spanyol dan orang Indonesia tentang waktu. Orang Amerika selalu bergegas dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, sedangkan orang Spanyol dan orang Indonesia cenderung memandang hidup lebih santai (Rahmat, 2005 :274). Hal ini ditegaskan oleh hasil penelitian Ford dan Peat (1988) yang mempertanyakan: "Do we speak (have language) because we think, or do we think because we speak?" Penelitian itu mengungkapkan bahwa pengaruh realitas bahasa seseorang terhadap pikirannya lebih dominan daripada pengaruh pikirannya terhadap bahasanya. Bahasa tidak hanya berperan sebagai ‘kendaraan’ yang digunakan untuk menyalurkan informasi tetapi juga sarana untuk membentuk pikiran. Sebagai ilustrasi, struktur bahasa Inggris yang linier membuat penutur asli bahasa Inggris selalu berpikir (bahkan bertindak) “to the point”. Hal ini dapat dibandingkan dengan struktur bahasa di Timur yang cenderung melingkar atau ‘zigjag’. Secara umum, pemikiran dan tindakan orang Timur tidak se-“to the point” orang Amerika. Penelitian yang dilakukan di Australia pada sekelompok anak berusia 4-5 tahun dari dua komunitas asli—Warlpiri dan Anindilyakawa yang tidak memiliki ungkapan verbal untuk angka menunjukkan bahwa sanak-anak tersebut dapat mengerjakan (berpikir) beberapa operasi matematika dasar tanpa menggunakan bahasa. Akan tetapi, mereka mengakui juga bahwa untuk memikirkan konsep-konsep yang lebih rumit, para peserta membutuhkan bahasa. Rumus-rumus ilmiah, seperti E=MC2, misalnya tidak akan bermakna bagi seseorang bila dia tidak mengetahui pengertian dari Energy (E), Mass (M) dan speed of light (C). 2. Bahasa Sebagai Media Komunikasi Komunikasi merupakan salah satu jantung pengembangan ilmu. Setiap ilmu dapat berkembang jika temuan-temuan dalam ilmu itu desebarluaskan (dipublikasikan) melalui tindakan berkomunikasi. Temuan-temuan itu kemudian didiskusikan, diteliti ulang, dikembangkan, disintetiskan, diterapkan atau diperbaharui oleh ilmuwan lainnya. Hasil-hasil diskusi, sintetis, penelitianulang, penerapan, dan pengembangan itu kemudian dipublikasikan lagi untuk ditindaklanjuti oleh ilmuwan lainnya. Selama dalam proses penelitian, perumusan, dan publikasi temuan-temuan tersebut, bahasa memainkan peran sentral, karena segala aktivitas tersebut menggunakan bahasa sebagai media. Dalam penelitian dan komunikasi ilmiah, setiap ilmuwan perlu mengembangkan dan memahami bahasa (terutama jargon-jargon akademis dan terminologi khusus) yang digunakan dalam bidang yang ditekuni. Tanpa bahasa yang mereka pahami bersama, kesalahpahaman akan sulit dihindari dan mereka tidak dapat bersinergi untuk mengembangkan ilmu. Ilmuwan yang miskin dengan kosa kata bisa saja bertindak seperti Billy dalam anekdot berikut. One day, a teacher was attempting to teach the names of animals to a class of 5-year-olds. She held up a picture of a deer, and asked one boy, "Billy, what is this animal?” Little Billy looked at the picture with a disheartened look on his face and responded, "I'm sorry Mrs. Smith, I don't know." The teacher was not one to give up easily, so she then asked Billy, "Well, Billy, what does your Mommy call your Daddy?" Little Billy's face suddenly brightened up, but then a confused look came over his face, as he asked, "Mrs. Smith, is that really a pig?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar