HomeEBOOKS AM*EBOOKS ED*EBOOKS LS*EBOOKS LG*EBOOKS GN**ARTICLES***JADWAL KULIAH.2011/2012

Kamis, 25 Agustus 2011

Pola-pola bilingual

Seorang anak dapat menjadi bilingual dan bilingualisme akan berbeda-beda dari satu keluarga atau kasus individu lain.Di bagian ini umumnya ditemukan pola-pola sebagai berikut:
Immigrasi.Imigrasi yakni meninggalkan suatu daerah asal mereka menetap ke daerah baru.Seperti bangsa Amerika dan Kanada, selamat berabad ditemukan sejumlah besar immigran masuk ke daerah mereka.Immigran anak-anak biasanya mendapatkan bahasa pertama dirumah dari orangtua atau keluarga dan bahasa kedua yang digunakan orang di sekitar tempat baru mereka.kebanyakan kasus di sana tidak ada ketentuan yang khusus dibuat bagi mereka ketika mereka masuk ke sekolah.Selanjutnya mereka harus menggali dan mendalami sesuatu yang terbaik untuk mereka dapatkan.Kebanyakan daerah immigran diharapkan oleh opini publik untuk berasimilasi misalnya beradaptasi terhadap adat istiadat di daerah baru.
2. Migrasi
Banyak negara eropa barat berpengalaman dalam migrasi berskla besar dalam 3 dekade setelah perang dunia kedua.Seperti masyarakat berpindah tempat untuk mencari pekerjaan dan demi kehidupan yang lebih baik.dalam beberapa kasus mula-mua mereka menampung keluarga mereka atau kemudian dikirim bagi mereka.Sedangkan yang lainnya mereke temukan sebagai mitra dari daerah baru atau kelompok etnik lain.Anak-anak mereka berkembang hanya mendengarkan dari orang tua mereka.adapun cara anak-anak mereka menjadi bilingual sama sekali tidak dapat diprediksi dari kasus immigran.
Lewis (1972) dalam sebuah catatan multi lingual in Uni Sovyet mencakup sebuah diskusi perkembangan tentang yang mereka sebut dengan bilingualism “mass” atau “popular”
3. Hubungan akrap dengan kelompok linguistik lain
Dalam beberapa negara diberbagai bangsa dan daerah yang kaya keanekaragaman linguistik, hubungan kelompok berbeda bahasa cukup umum.Hal ini mungkin di bawah oleh para urban atau migrasi intern dan bilingualisme kemungkinan besar ditemukan pada anak-anak juga orang dewasa.Anak mungkin mempunyai orang tua atau keluarga yang berbicara berbeda bahasa atau mereka mendengar satu bahasa di rumah dan satu bahasa lainnya diluar rumah.
4. Pendidikan yang mereka terima di sekolah
Sekarang pendidikan mempunyai peranan penting dalam membentuk anak-anak yang dapat bilingual.Sistem pendidikan sengaja diarahkan sebagai salah satu kasus terhadap pembinaan bilingualism.Sebagai contoh orang perancis mendalami kursus di sekolah-sekolah di kanada di desain untuk anak-anak dari kebanyakan berbicara bahasa Inggris.Juga ditambah kursus katalan untuk anak-anak berbicara bahasa Spanyol di Catalonia.Sebagai contoh diwajibkan menggunakan bahasa kedua sebagai media penyampaian materi pelajaran pada pendidikan level kedua atau sejak awal pertemuan dengan beberapa bagian dalam USSR yang mana Lewis (1972) mengemukakan 3 perubahan penting dalam bidang linguistik sejak memperkenalkan pendidikan secara umum.Pertama,mengembangkan mass bilingualism, sedangkan sebelumnya hanya dalam jumlah terbatas.Kedua, Pada kenyataannya sekarang dikenal dengan bilingualisme populer yang terbentuk secara alamiah terutama bahasa lisan dan ketiga menjadikan bilingual sebagai pilihan terbuka untuk mayoritas terbesar anak-anak Soviet tidak menjadikan hak prerogatif elite.
5. Hidup bersama keluarga bilingual.
Di tingkat keluarga ada banyak perbedaan strategi yang dipilih dalam menjadi anak bilingual.Banyak anak diobservasi dalam studi kasus yang tercantum di bawah ini (lihat 2.4) yang berasal dari keluarga dimana satu salah satu orang tua berbicara bahasa masyarakat yang lebih luas dan orang tua lain bahasa Asing.Satu kasus Denny melakukan bilingual Swedia dan English.Bapaknya orang Swedia dan Ibunya orang Amerika tinggal di Swedia atau Lisa dan Gualia melakukan bilingual Italia dan Jerman.Bapaknya Berbicara bahasa Italia dan Ibunya berbahasa Jerman tinggal di Italia.
Dalam banyak keluarga telah mengadopsi dan membangun kaidah satu orang satu bahasa.Adapun tingkat kesuksesan tergantung berbagai faktor seperti orangtua harus konsisten dalam penggunaan bahasa mereka dimana seorang anak cukup menerima bahasa yang dipakai dirumahnya saja.Dia memerlukan persepsi untuk menggunakan kedua bahasa atau dia menerima dukungan ragam bahasa yang benar dan dukungan dari masyarakat.Yang pertama menyediakan dua kondisi, yakni menemukan konsistensi dan ekspose.Membangun bilingualism biasanya tidak bermasalah.
Dalam beberapa keluarga yangmana bahasa minoritas diucapkan oleh salah satu atau kedua orangtua mereka yang tujuan utamanya memperkenalkan dua bahasa kepada anak yang baru lahir atau mulai menggunakan bahasa mayoritas setelah mendapatkan satu bahasa minoritas yang telah terbenutk di rumah tetapi sebelum anak memulai sekolah.Perkembangan bilingualism akan sukses tergantung pada hal-hal yang disebutkan sebelumnya yakni ekspose, konsisten, kebutuhan persepsi dan dukungan masyarakat baik mayoritas maupun minoritas.Tetapi yang sangat perlu yakni dukungan masyarakat.
Tidak semua keluarga memilih pola yang digunakan; serta tidak semua mereka selalu mematuhi prinsip satu orangtua satu bahasa.Orang tua atau anggota keluarga lain menggunakan bahasa kedua-duanya.Mereka mungkin tidak konsisten mempraktikannya seperti satu keluarga menggunakan satu bahasa ketika sendirian dengan anak-anak dan yang lain ketika keluarga lain hadir atau mungkin tidak mengikuti pola khusus pada saat itu.
Ada banyak kemungkinan jawaban pertanyaan bagaimana anak dapat melakukan bilingual.Hanya sebagian kecil dari mereka dapat dipaparkan di sini.Keadaan individu keluarga maupun yang berlaku di masyarakat luas dan dapat memutuskan sejauhmana menjadikan anak tinggal di lingkungan bilingual.Sejumlah determinan psikologis, sosial dan pendidikan akan berperan juga.(Lihat diskusi selanjutnya pada bab 6 dan 7)

Teori dan Praktik dari Kode Sederhana dalam pemerolehan bahasa

Pendahuluan
The theoretical and Pratical Relevance of Simple Codes in Language Acquisition membahas pengaplikasian secara langsung dalam kelas bahasa kedua.
Peran dan nilai dari kelas memberikan dorongan terhadap pemerolehan terhadap bahasa kedua. Kelas harus ditampilkan sebagai suatu tempat di mana siswa dapat memperoleh masukan yang siswa butuhkan untuk akuisisi. Kelas mungkin lebih superior daripada dunia luar bagi pelajar pemula dan menengah. Bagian ini juga membahas kemungkinan dari peran pembelajaran yang disadari.
Isi
Kasus menarik tentang pemerolehan bahasa inggris sebagai bahasa kedua kasus. Paul (5) yang sukses dan Ricardo (13) yang tidak sukses. Dalam kasus ini Wagner gough dan Hacth, hal ini terjadi karena perbedaan input, bukan karena perbedaan usia.
Yang dapat dilakukan untuk Ricardo:
1. Mengikuti kelas terpisah. Hal ini akan mempersederhana ‘teacher talk’ untuknya (Ricardo).
2. Menyediakan Ricardo kesempatan bertemu native speaker sehingga ia diberi input ‘foreigner-talk’
3. Mengatur berbagai cara agar Ricardo berhubungan dengan pemerolehan ESL yang lain. Hal ini memberinya input, ‘interlanguage’

Dari kasus di atas disinggung ada 3 simple code, yaitu:
1. Teacher-talk : bahasa yang digunakan guru di kelas
2. Foreigner-talk : pembicaraan yang dilakukan penutur asli
3. Interlanguage-talk : pembicaraan oleh pemeroleh bahasa kedua yang lain

Untuk mengetahui apakah simple code membantu pemerolehan bahasa atau tidak digunakan dengan 2 pendekatan
1. The gross approach
Pendekatan ini langsung berusaha menjawab pertanyaan apakah orang yang punya akses terhadap simple codes dapat memeroleh bahasa dengan cepat dan apakah yang tidak mendapat input terhadap simple code lebih sulitbuntuk memperoleh bahasa.
Contoh kasus : seorang professor s.k berusaha memperoleh 4 bahasa berbeda, dengan input sample codes untuk subyek s.k.
Target language Teacher talk Interlanguage talk Foreigner talk
German + + +
French + + -
Hebrew + + +
Ambaric - - +
Sk mendapat input yang sama dalam bahasa Jerman dan Francis untuk teacher talk dan interlanguage talk, sedanng untuk foreigner talk sk mendapat input dalam bahasa Jerman saja. Ia melaporkan dengan jangka waktu belajar yang sama (3 thn) bahwa bahasa Jermannya lebih baik daripada Francis. Ia kesulitan dalam listening comprehension dan pemilihan kata yang benar dalam berkomunikasi dalam bahasa Francis.
Dari kasus ini terlihat bahwa foreigner- talk berguna untuk level bawah-menengah, sedang foreigner –talk menjembatani sampai ke menengah atas-mahir.
Sk mendapat 3 input simple codes untuk bahasa Yahudi dan tidak mendapat input teacher-talk dan interlanguage-talk untuk bahasa Ambaric. Selam 2 tahun sk menggunakan bahasa Ambaric hanya ketika berkomunikasi dengan orang Ethopia (yang hanya bisa berbahasa Ambaric). Ia melaporkan penggunaan bahasa Ambaricnya rendah dan sebaliknya untuk bahasa Yahudi.
Perbedaan Ambaric –Yahudi tersebut konsisten dengan hipotesis bahwa simple code teacher-talk dan interlanguage –talk sangat berguna dalam menguasai level awal kelancaran berbahasa.
2. Lingusitik analysis of Simple Code
Pendekatan ini menentukan apakah simple code cocok secara llinguistik untuk pemerolehan berbahasa. Untuk itu akan dibahas terlebih dahulu tentang caracteker speech. Caretaker speech: bahasa yang ditujukan untuk anak kecil dalam memeroleh bahasa pertamanya.

Caretaker Speech and Language Acquisition
Berdasarkan banyak literature bahwa bahasa untuk anak dalam memperoleh bahasa pertamanya berupa kalimat pendek, mudah dipahami, sedikit anak kalimat, kosakata, dan topic yang terbatas. Jika, caretaker speech dapat membantu pemerolehan bahasa anak, simple codes mungkin bisa melakukan hal yang sama untuk pemerolehan bahasa kedua.
Ada 3 fakta pemerolehan bahasa anak dan caretaker speech:
1. Penemuan bahwa struktur (tata bahasa) diperoleh anak dalam urutan yang relative dapat diprediksi.
2. Kompleksitas sintaksisdari caretaker-speech tidak tumbuh dalam proporsi yang pasti terhadap kompetensi anak (Newport et all, 1977 dan Cross 1977). Hal ini terlihat caretaker-speech yang lebih sederhana dan tidak “benar-benar dimaksudkan “ untuk perkembangan kompetensi anak.
3. Caretaker speech yang relative sederhana ditujukan untuk berkomunikasi dengan anak , untuk mengontrol tingkah laku dan untuk pemahaman anak terhadap apa yang mereka (pengasuh) ucapkan.
Tiga penemuan ini mengarah pada generalisasi mengenai hubungan input dan perkembangan tata bahasa anak. Kemajuan anak memahami sedikit melebihi (usia) mereka. Hal ini karena adanya bantuan konteks yang diberikan caretaker speech.

Simple Codes dan second Language Acquisition
Apakah simple codes memberi efek yang sama terhadap pemerolehan bahasa kedua seperti halnya caretaker speech terhadap pemerolehan bahasa pertama anak?
Dari data dan sumber yang ada ditemukan bahwa simple codes dikondisikan hampir sama tingkatannya dengan caretaker specch. Simple codes lebih sederhana daripada pembicaraan native-speaker-native speaker. Dan tidak diarahkan dengan sengaja untuk meningkatkan level pemerolehan bahasa.

Penyerdehanaan ini dapat diihat dari aspek:
1. Rate
Input teacher-talk and interklanguage-talk dilakukan lebih lambat daripada pembicaraan sesame native-speaker
2. Lexicon
Teacher-talk yang diterima anak ada pada tipe yang lebih rendah
3. Well-formedness
Simple codes dibuat lebih bagus untuk pemahaman anak
4. Length
Simple codes dalam hal ini teacher-talk dilakukan lebih pendek daripada pembicaraan sesame native speaker
5. Proporsional complexity
Teacher talk tidak serumit pembicaraan sesame native speaker

Data di atas menunjukkan bahwa simple codes dibuat pada tingkat yang mungkin sama dengan tingkat caretaker speech.
Jika caretaker membantu pemerolehan bahasa, bisa saja simple codes juga berguna dengan cara yang sama. Guru, yang lebih mahir dalam berbahasa kedua dan penutur asli yang berkomunikasi dengan pemeroleh bahasa mungkin secara tidak sadar memberi input yang sangat berguna.

Re – analysis of Classroom Exercise
Ada dua alternative latihan kelas : latihan grammar dan latihan komunikatif. Latihan grammar ini berfokus pada pemerolehan pengetahuan formal, sedang latihan komunikatif berfokus pada pemerolehan pengetahuan yang secara tidak sadar (acquired).
Latihan yang berfokus pada acquitision (pemerolehan) mungkin mencapai target yang ditentukan. Tapi bila input yang diberikan tidak cukup syarat terjadinya pemerolehan maka hasil yang didapat tidak memuaskan.
Begitu juga dengan latihan yang focus pada learning (belajar) mungkin akan bermuara pada kebosanan. Target akan sulit dicapai untuk kelas besar.
Akhirnya, latihan yang menekankan benar atau salah sering membuat pembelajar (anak) bertahan (tidak mau salah, hingga memilih diam) dan ini tidak ideal untuk memperoleh bahasa. Penggunaan simple codes di situasi yang focus pada komunikasi mungkin bisa memperkecil keengganan siswa hingga pemerolehan bahasa menjadi lebih efektif.

Some final comment: a summer s an intermediate French student
Penulis menceritakan pengalaman belajar bahasa Francis. Guru bahasa francis nya melakukan percakapan dengan siswa untuk menjelaskan tata bahasa, kosakata, dalam latihan, anekdot, manajemen kelas dan lain-lain dalam bahasa francis. Dan siswa hampir memahami apa pun yang diucapkannya (walaupun sebagai bahasa kedua). Teacher talk di sini memotivasi siswa belajar lebih (untuk bisa memahami pembicaraan sang guru).
Kemanjuran simple code untuk memberi input bagi pemerolehan bahasa merupakan suatu isu empiris yang bisa di uji dengan berbagai pendekatan. Dan sudah ada cukup bukti untuk berhipotesis bahwa simple codes sangat membantu pemeroleh bahasa pada tahap awal dan menengah. Anak atau dewasa, bahasa pertama atau bahasa kedua.

Simpulan
Dari uraian di atas bahwa simple codes untuk member input bagi pemerolehan bahasa merupakan isu empiris yang bisa diuji dengan berbagai pendekatan. Sudah cukup bukti untuk menghipotesis bahwa simple codes sangat membantu pemeroleh bahasa pada tahap awal dan menengah anak atau dewasa, bahasa pertama atau bahasa kedua, sehingga dapat disimpulkan bahwa masukan atau input tidak hanya sangat bermanfaat tetapi juga sangat mendasar.
Dikutip dari buku Psikolinguistik


PRODUKSI UJARAN

Salah satu pengertian production/produksi adalah kegiatan atau proses membuat sesuatu secara alami (Hornby, A.S. Oxford Advanced Learner's Dictionary. 2000. p.1051.). Menurut Soenjono Dardjowidjojo, produksi kalimat memerlukan proses psikologis untuk meramu unsur-unsur yang akan dikatakan dalam urutan yang wajar dan koordinasi yang tepat dengan neurobiologi manusia (2010. p.115). Proses mental dalam berbicara menyangkut berbagai aspek, pertama, asumsi tentang pengetahuan interlokutor - orang yang diajak bicara. Kedua, prinsipel kooperatif yang harus dipatuhi oleh tiap peserta dalam berkomunikasi (2010. p.115,116). Sedangkan bahan pertimbangan dalam melakukan perencanaan dalam produksi berbicara menurut Clark & Clark (1977. p.225, 226) adalah sebagai berikut: (1) Pengetahuan pendengar (2) Prinsip kerjasama (3) Prinsip kenyataan (4) Konteks sosial (5) Ketersediaan perangkat linguistik.

Definisi ‘berbicara’ menurut Cambridge Advanced Learner’s Dictionary (3rd edition – software) merupakan mengucapkan kata-kata, menggunakan suara, atau melakukan percakapan dengan seseorang. Berbicara merupakan alat verbal dalam berkomunikasi atau membawa makna (Owen. 1992. p.4). Berbicara merupakan suatu proses yang memerlukan koordinasi neuromuscular yang sangat presisi. Berbicara pada dasarnya merupakan suatu tindakan instrumental. Karakteristik tindak ujaran/speech act memainkan peran penting dalam proses speech production. Si penutur memulai dengan niat untuk mempengaruhi pendengarnya dengan cara tertentu, kemudian dia memilih dan mengucapkan sebuah kalimat yang dipercaya mengantarkan pengaruh tersebut (Clark & Clark. 1977. P.223,224).

1. Langkah Umum Dalam Memproduksi Ujaran

















Grammatical Encoding













Bock & Levelt (dalam Soenjono. 2010. p.117) membagi proses produksi ujaran kedalam empat tahapan: (1) pesan (message), dimana pesan yang akan disampaikan diproses (2) fungsional, dimana bentuk leksikal dipilih lalu diberi peran dan fungsi sintaktik (3) posisional, dimana konstituen dibentuk dan afiksasi dilakukan (4) fonologi, dimana struktur fonologi ujaran tersebut diwujudkan.

2. Rincian Produksi Ujaran

Selanjutnya, masih menurut Clark & Clark, kegiatan berbicara dibagi menjadi dua: Planning/perencanaan dan eksekusi/pelaksanaan (1977. p.224). Pertama, si penutur merencanakan apa yang akan dikatakannya berdasarkan bagaimana dia ingin mengubah mental state pendengarnya. Kemudian dia letakkan rencana tersebut ketahap eksekusi, ujaran bagian-bagian, kata-kata, frasa-frasa, dan kalimat-kalimat yang menghasilkan perencanaan.


a. Wacana
Perencanaan b. Kalimat
c. Konstituen

Produksi
a. Program artikulasi
Pelaksanaan
b. Artikulasi



Secara garis besar proses perencanaan dan eksekusi berbicara sebagai berikut:
1. Discourse plans/perencanaan wacana.
Langkah pertama si penutur adalah menentukan percakapan yang bagaimana yang akan dilakukan. Setiap jenis percakapan mempunyai struktur yang berbeda, dan dia harus merencanakan ucapan mana yang sesuai untuk kondisi tersebut dan setiap ucapan harus menyampaikan pesan yang tepat.
2. Perencanaan kalimat
Si penutur harus memilih kalimat dengan pesan yang tepat yang akan digunakan sesuai dengan niat dan wacana yang diinginkan.
3. Perencanaan konstituen
Ketika si penutur telah memutuskan karakteristik umum sebuah kalimat, dia dapat mulai merencanakan konstituennya. Dia harus memilih kata, frasa, atau idiom yang tepat untuk menempati tiap konstituen dan meletakkannya kedalam susunan yang tepat.
4. Program artikulatori
Saat kata dipilih, kata tersebut dibentuk menjadi suatu “program artikulatori” dalam memori “buffer/penyangga” yang dapat merangkum semua kata konstituen yang direncanakan sekaligus. Hal ini mengandung representasi bagian-bagian fonetik, tekanan/stress, dan pola intonasi yang dieksekusi pada langkah selanjutnya.
5. Artikulasi
Langkah terakhir adalah mengeksekusi isi program artikulatori. Hal ini dilakukan dengan mekanisme dengan membahkan rangkaian dan ketepatan program artikulatori, mengarahkan otot-otok artikulatori apa yang harus dilakukan kemudian. Langkah ini menghasilkan bunyi yang dapat didengar, yaitu percakapan yang diinginkan.

Hal yang perlu diperhatikan kesalahan pemahaman bahwa berbicara merupakan kebalikan dari proses mendengar semata. Hubungan proses antara keduanya: dalam berbicara, makna diubah menjadi bunyi dan dalam mendengar bunyi diubah menjadi makna. Perbedaanya, dalam hal suara, berbicara memerlukan aktivasi motorik organ-organ bicara, sedangkan mendengar merupakan analisa tanda-tanda bicara. Kedua aktivitas ini melibatkan organ-organ yang berbeda. Dalam hal makna, ketika berbicara, si penutur mulai dengan niat mempengaruhi pendengar dan mengubah niat ini menjadi rencana pengucapan, sedangkan ketika mendengarkan, si pendengar mengenali rencana si penutur dan menyimpulkan niat si penutur tersebut.

2.1 Perencanaan Produksi Wacana
Umumnya wacana terbagi dua: (a) dialog dan (b) monolog (Soenjono. 2010. p.120 dan Clark & Clark. 1977. p.227). Dalam dialog, si penutur harus menyelaraskan pembicaraannya dengan pembicaraan orang lain. Sedangkan pada monolog, si penutur harus merencanakan keseluruhan wacana tanpa campur tangan orang lain. Jadi, perbedaan utama antara keduanya terletak pada ada tidaknya interaksi antara pembicara dengan pendengar (Soenjono. 2010. p.120).

2.1.1 Wacana Dialog
Ada empat unsur yang terlibat dalam monolog: (1) personalia/personnel (2) latar bersama/common ground (3) perbuatan bersama/join action (4) kontribusi (H. Clark dalam Soenjono. 2010. p.121-125).

2.1.1.1 Personalia
















Pada unsur ini, minimal harus ada dua partisipan, pembicara dan interlocutor (orang yang diajak bicara). Ada pula side participant (orang yanikut serta dalam pembicaraan tersebut). Juga bystander (partisipan yang mempunyai akses pada apa yang dibicarakan pembicara dan interlocutor dan kehadirannya diakui). Terakhir eavesdroppers (penguping. Orang yang juga mempunyai akses pada percakapan itu tetapi kehadirannya tidak diakui).

2.1.1.2 Latar Bersama

Konsep ini mengacu pada anggapan si pembicara dan orang yang diajak berbicara memiliki prasuposisi dan pengetahuan yang sama tentang wacana yang dibicarakan. Kesamaan inilah yang dinamakan common ground/latar bersama.

2.1.1.3 Perbuatan Bersama

Baik pembicara maupun interlokutornya melakukan perbuatan yang pada dasarnya mempunyai aturan yang mereka ketahui bersama. Misal, suatu percakapan mempunyai tiga unsur struktur: pembukaan, isi dan penutup yang masing-masing mempunyai aturan sendiri-sendiri. Contoh: kalimat “Hai, Mr. Kasmudin” akan dijawab “Hai juga Mr. Mas’ud. Apa kabar?” dan seterusnya. Kalimat pada tiap unsur, dan antar unsur itu sendiri mempunyai keterikatan makna. Karena adanya conditional relevance (relevansi kondisional), maka akan muncul dua ujaran dari dua pembicara atau lebih yang memiliki keterpautan semantic yang disebut adjacency pair (pasangan dampingan) (p.123).

2.1.1.4 Kontribusi

Kontribusi mempunyai dua tahap: (1) presentasi, pembicara menyampaikan sesuatu untuk dipahami interlocutor (2) pemahaman (acceptance), interlocutor telah memahami apa yang disampaikan oleh pembicara.

Proses untuk mencapai latar bersama disebut grounding. Grounding tumbuh secara akumulatif, yaitu berkembang (dapat berubah) dari satu kalimat ke kalimat lain, tergantung isi pembicaraan.

2.1.2 Wacana Monolog

Monolog mempunyai aturan yang berbeda dengan dialog. Ada empat factor yang berperan disini: (1) Dari segi informasi yang akan disampaikan, orang akan memilih mana yang layak dan mana yang tidak untuk dimasukkan dalam pembicaraan. (2) Pembicara juga harus mempertimbangkan sedetail apa informasi tersebut disampaikan. Faktor lainnya adalah (3) urutan penyajiannya, dan terakhir (4) hubungan antara satu unsur dengan unsur yang lain. Keempat factor tersebut akan mewujudkan wacana monolog yang koheren, serasi dari segi makna.

2.2 Perencanaan Produksi Kalimat

Dalam tahap ini, ada tiga kategori yang perlu diproses, yaitu: (a) Propositional content (b) Illocutionary content (c) Thematic structure (Clark & Clark. 1977. p.237 dan Soenjono. 2010. p.129).

2.2.1 Propositional Content
Inti dari kalimat terletak pada proposisinya, yang merupakan unit makna yang merefleksikan ide-ide yang akan disampaikan oleh si penutur. Deskripsi tentang sebuah apartement misalnya, munkin dapat dipecah-pecah menjadi sperti rangkaian berikut:

Anda memasuki pintu
Pintunya berada di depan
Tempat tidurnya berada disebelah kiri pintu masuk
Dan sebagainya

Sebelum proposisi-proposis sederhana tersebut dapat direalisasikan sebagai kalimat, proposisi tersebut digabungkan secara bermanfaat dan diberikan muatan ilokusioner dan struktur thematic. Hasilnya mungkin sebuah pernyataan yang tegas: Anda sedang memasuki pintu depan, atau sebuah permintaan, Masuki pintu depan. Hasilnya dapat berbeda dalam bentuk seperti Sebuah tempat tidur disebelah kiri versus disebelah kiri sebuah ranjang (Clark & Clark. 1977. p.237,238).

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: (1) Pemilahan peristiwa atau keadaan. (2) Perencanaan kalimat bias dipengaruhi oleh kodrat bahasa. Contoh dalam bahasa Banjar, ketika si penutur bertanya kepada orang yang dianggap lebih tua Pian handak kemana? (Anda mau kemana?). Berbeda dengan jika orang yang ditanya dianggap sama/seusia atau jauh lebih muda Ikam handak kemana? (Kamu mau kemana?). (3) Umumnya orang mengikuti cara penyampaian yang paling sederhana, kecuali ada alasan untuk berbuat lain, misal: karena sheriff umumnya lelaki, maka bila ada sheriff perempuan orang akan mengatakan The sheriff here is not a man bukan The sheriff here is a woman. (3) Juga, pada umumnya manusia bertitik tolak pandangannya dari segi positif ke segi negative, seperti How tall is your new boyfriend? bukan How short is your new boyfriend?

2.2.2 Illocutionary Content
Dalam merencanakan sebuah kalimat, si penutur harus memutuskan muatan ilokusinernya, yakni makna yang akan disampaikan itu akan diwujudkan dalam kalimat seperti apa. Disini peran tindak ujaran muncul (Soenjono. 2010. p.131).

Contoh proposisi: John will be here. Proposisi ini dapat dibuat dalam banyak tindak ujaran:

John will be here. (Suatu pernyataan)
Will John be here? (yes/no question)
I warn you that John will be here. (sebuah peringatan)
I bet you that John will be here. (sebuah pertaruhan)
Dan lain-lain

Pilihan merupakan hal yang penting dalam wacana tersebut. Tindak ujaran ini dapat dibuat dengan cara yang berbeda pula. Bagian yes/no question dapat diekspresikan secara langsung

Will John be here?

Atau secara tidak langsung:

Do you know whether John will be here?
Tell me whether or not John will be here.
Please let me know whether John will be here or not.

Si penutur mempunyai dua masalah. Pertama, tindak ujaran mana yang ingin dipakai? Kedua, bentuk mana yang akan diekspresikan?

2.2.3 Thematic Structure
Konsep ini berkaitan dengan penentuan berbagai unsur dalam kaitannya dengan fungsi gramatikal atau semantic dalam kalimat. Masalah yang harus dipecahkan oleh si penutur adalah opsi mana yang seharusnya dipilih untuk tujuan lanjutannya. Contoh,

Pak Iping melempari anjing itu (Active)
Anjing itu dilempari oleh Pak Iping (Passive)

Meski tampak sama, dua kalimat diatas berbeda. Kalimat pertama, penutur beranggapan bahwa Pak Iping mempunyai informasi lama (given information) dan informasi baru (new information) yang sedang disampaikan adalah melempari anjing itu. Sedangkan kalimat kedua, Anjing itu (new information) yang sedang dilempari oleh Pak Iping.

2.3 Perencanaan Produksi Konstituen
Pada tahap ini kata yang maknanya sesuai akan dipilih tepat seperti yang diinginkan. Ada banyak hal yang terlibat disini. Misal, satu referen mempunyai “julukan’ lebih dari satu. Ir. Soekarno, bisa dirujuk sebagai (a) presiden pertama RI, (b) proklamator bangsa, (c) pendiri Partai Nasionalis Indonesia (d) penentang gigih penjajahan Belanda (e) penggemar wanita, (f) ayah dari Megawati, dan sebagainya.

Faktor lain diantaranya yang berperan penting adalah konteks kalimat. Contoh:

Kemarin Erica baru beli sepatu
Sepatu itu berwarna merah muda

Jika si penutur menyebutkan sesuatu seperti sepatu (seperti kalimat pertama) lalu si penutur akan merujuk ke sepatu yang sama itu, maka rujukan kepada benda yang telah disebutkan sebelumnya itu harus kita tandai dengan itu (seperti pada kalimat kedua). Jika kata itu diganti jadi sebuah, missal Sebuah sepatu berwarnamerah muda, dan bukan sepatu itu, maka si penutur tidak sedang berbicara tentang sepatu yang baru saja dibeli Erica.

Jika yang diacu adalah bagian wajib dari sepatu (missal: sol, tali), maka yang digunakan bukan itu tetapi –nya seperti dalam kata berikut:

Solnya sudah lecet
Talinya sudah kotor


Pemilihan kata juga kadang ditentukan oleh prinsipel keberbedaan/distinguishability principle. Contoh (Clark & Clark. 1977. p.251 dan Soenjono. 2010. p.135):




Array Description

Set A The round one


Set B The small one


Set C The small round one


Set D The circle that is about 1 mm in diameter


Contoh:
(1) Beri saya yang bulat (A)
(2) Beri saya yang kecil (B)
(3) Beri sya yang bulat kecil (C)
(4) Beri saya lingkaran yang diameternya kira-kira 1 mm.

Dikutip dari buku Psikolinguistik