HomeEBOOKS AM*EBOOKS ED*EBOOKS LS*EBOOKS LG*EBOOKS GN**ARTICLES***JADWAL KULIAH.2011/2012

Kamis, 25 Agustus 2011

PRODUKSI UJARAN

Salah satu pengertian production/produksi adalah kegiatan atau proses membuat sesuatu secara alami (Hornby, A.S. Oxford Advanced Learner's Dictionary. 2000. p.1051.). Menurut Soenjono Dardjowidjojo, produksi kalimat memerlukan proses psikologis untuk meramu unsur-unsur yang akan dikatakan dalam urutan yang wajar dan koordinasi yang tepat dengan neurobiologi manusia (2010. p.115). Proses mental dalam berbicara menyangkut berbagai aspek, pertama, asumsi tentang pengetahuan interlokutor - orang yang diajak bicara. Kedua, prinsipel kooperatif yang harus dipatuhi oleh tiap peserta dalam berkomunikasi (2010. p.115,116). Sedangkan bahan pertimbangan dalam melakukan perencanaan dalam produksi berbicara menurut Clark & Clark (1977. p.225, 226) adalah sebagai berikut: (1) Pengetahuan pendengar (2) Prinsip kerjasama (3) Prinsip kenyataan (4) Konteks sosial (5) Ketersediaan perangkat linguistik.

Definisi ‘berbicara’ menurut Cambridge Advanced Learner’s Dictionary (3rd edition – software) merupakan mengucapkan kata-kata, menggunakan suara, atau melakukan percakapan dengan seseorang. Berbicara merupakan alat verbal dalam berkomunikasi atau membawa makna (Owen. 1992. p.4). Berbicara merupakan suatu proses yang memerlukan koordinasi neuromuscular yang sangat presisi. Berbicara pada dasarnya merupakan suatu tindakan instrumental. Karakteristik tindak ujaran/speech act memainkan peran penting dalam proses speech production. Si penutur memulai dengan niat untuk mempengaruhi pendengarnya dengan cara tertentu, kemudian dia memilih dan mengucapkan sebuah kalimat yang dipercaya mengantarkan pengaruh tersebut (Clark & Clark. 1977. P.223,224).

1. Langkah Umum Dalam Memproduksi Ujaran

















Grammatical Encoding













Bock & Levelt (dalam Soenjono. 2010. p.117) membagi proses produksi ujaran kedalam empat tahapan: (1) pesan (message), dimana pesan yang akan disampaikan diproses (2) fungsional, dimana bentuk leksikal dipilih lalu diberi peran dan fungsi sintaktik (3) posisional, dimana konstituen dibentuk dan afiksasi dilakukan (4) fonologi, dimana struktur fonologi ujaran tersebut diwujudkan.

2. Rincian Produksi Ujaran

Selanjutnya, masih menurut Clark & Clark, kegiatan berbicara dibagi menjadi dua: Planning/perencanaan dan eksekusi/pelaksanaan (1977. p.224). Pertama, si penutur merencanakan apa yang akan dikatakannya berdasarkan bagaimana dia ingin mengubah mental state pendengarnya. Kemudian dia letakkan rencana tersebut ketahap eksekusi, ujaran bagian-bagian, kata-kata, frasa-frasa, dan kalimat-kalimat yang menghasilkan perencanaan.


a. Wacana
Perencanaan b. Kalimat
c. Konstituen

Produksi
a. Program artikulasi
Pelaksanaan
b. Artikulasi



Secara garis besar proses perencanaan dan eksekusi berbicara sebagai berikut:
1. Discourse plans/perencanaan wacana.
Langkah pertama si penutur adalah menentukan percakapan yang bagaimana yang akan dilakukan. Setiap jenis percakapan mempunyai struktur yang berbeda, dan dia harus merencanakan ucapan mana yang sesuai untuk kondisi tersebut dan setiap ucapan harus menyampaikan pesan yang tepat.
2. Perencanaan kalimat
Si penutur harus memilih kalimat dengan pesan yang tepat yang akan digunakan sesuai dengan niat dan wacana yang diinginkan.
3. Perencanaan konstituen
Ketika si penutur telah memutuskan karakteristik umum sebuah kalimat, dia dapat mulai merencanakan konstituennya. Dia harus memilih kata, frasa, atau idiom yang tepat untuk menempati tiap konstituen dan meletakkannya kedalam susunan yang tepat.
4. Program artikulatori
Saat kata dipilih, kata tersebut dibentuk menjadi suatu “program artikulatori” dalam memori “buffer/penyangga” yang dapat merangkum semua kata konstituen yang direncanakan sekaligus. Hal ini mengandung representasi bagian-bagian fonetik, tekanan/stress, dan pola intonasi yang dieksekusi pada langkah selanjutnya.
5. Artikulasi
Langkah terakhir adalah mengeksekusi isi program artikulatori. Hal ini dilakukan dengan mekanisme dengan membahkan rangkaian dan ketepatan program artikulatori, mengarahkan otot-otok artikulatori apa yang harus dilakukan kemudian. Langkah ini menghasilkan bunyi yang dapat didengar, yaitu percakapan yang diinginkan.

Hal yang perlu diperhatikan kesalahan pemahaman bahwa berbicara merupakan kebalikan dari proses mendengar semata. Hubungan proses antara keduanya: dalam berbicara, makna diubah menjadi bunyi dan dalam mendengar bunyi diubah menjadi makna. Perbedaanya, dalam hal suara, berbicara memerlukan aktivasi motorik organ-organ bicara, sedangkan mendengar merupakan analisa tanda-tanda bicara. Kedua aktivitas ini melibatkan organ-organ yang berbeda. Dalam hal makna, ketika berbicara, si penutur mulai dengan niat mempengaruhi pendengar dan mengubah niat ini menjadi rencana pengucapan, sedangkan ketika mendengarkan, si pendengar mengenali rencana si penutur dan menyimpulkan niat si penutur tersebut.

2.1 Perencanaan Produksi Wacana
Umumnya wacana terbagi dua: (a) dialog dan (b) monolog (Soenjono. 2010. p.120 dan Clark & Clark. 1977. p.227). Dalam dialog, si penutur harus menyelaraskan pembicaraannya dengan pembicaraan orang lain. Sedangkan pada monolog, si penutur harus merencanakan keseluruhan wacana tanpa campur tangan orang lain. Jadi, perbedaan utama antara keduanya terletak pada ada tidaknya interaksi antara pembicara dengan pendengar (Soenjono. 2010. p.120).

2.1.1 Wacana Dialog
Ada empat unsur yang terlibat dalam monolog: (1) personalia/personnel (2) latar bersama/common ground (3) perbuatan bersama/join action (4) kontribusi (H. Clark dalam Soenjono. 2010. p.121-125).

2.1.1.1 Personalia
















Pada unsur ini, minimal harus ada dua partisipan, pembicara dan interlocutor (orang yang diajak bicara). Ada pula side participant (orang yanikut serta dalam pembicaraan tersebut). Juga bystander (partisipan yang mempunyai akses pada apa yang dibicarakan pembicara dan interlocutor dan kehadirannya diakui). Terakhir eavesdroppers (penguping. Orang yang juga mempunyai akses pada percakapan itu tetapi kehadirannya tidak diakui).

2.1.1.2 Latar Bersama

Konsep ini mengacu pada anggapan si pembicara dan orang yang diajak berbicara memiliki prasuposisi dan pengetahuan yang sama tentang wacana yang dibicarakan. Kesamaan inilah yang dinamakan common ground/latar bersama.

2.1.1.3 Perbuatan Bersama

Baik pembicara maupun interlokutornya melakukan perbuatan yang pada dasarnya mempunyai aturan yang mereka ketahui bersama. Misal, suatu percakapan mempunyai tiga unsur struktur: pembukaan, isi dan penutup yang masing-masing mempunyai aturan sendiri-sendiri. Contoh: kalimat “Hai, Mr. Kasmudin” akan dijawab “Hai juga Mr. Mas’ud. Apa kabar?” dan seterusnya. Kalimat pada tiap unsur, dan antar unsur itu sendiri mempunyai keterikatan makna. Karena adanya conditional relevance (relevansi kondisional), maka akan muncul dua ujaran dari dua pembicara atau lebih yang memiliki keterpautan semantic yang disebut adjacency pair (pasangan dampingan) (p.123).

2.1.1.4 Kontribusi

Kontribusi mempunyai dua tahap: (1) presentasi, pembicara menyampaikan sesuatu untuk dipahami interlocutor (2) pemahaman (acceptance), interlocutor telah memahami apa yang disampaikan oleh pembicara.

Proses untuk mencapai latar bersama disebut grounding. Grounding tumbuh secara akumulatif, yaitu berkembang (dapat berubah) dari satu kalimat ke kalimat lain, tergantung isi pembicaraan.

2.1.2 Wacana Monolog

Monolog mempunyai aturan yang berbeda dengan dialog. Ada empat factor yang berperan disini: (1) Dari segi informasi yang akan disampaikan, orang akan memilih mana yang layak dan mana yang tidak untuk dimasukkan dalam pembicaraan. (2) Pembicara juga harus mempertimbangkan sedetail apa informasi tersebut disampaikan. Faktor lainnya adalah (3) urutan penyajiannya, dan terakhir (4) hubungan antara satu unsur dengan unsur yang lain. Keempat factor tersebut akan mewujudkan wacana monolog yang koheren, serasi dari segi makna.

2.2 Perencanaan Produksi Kalimat

Dalam tahap ini, ada tiga kategori yang perlu diproses, yaitu: (a) Propositional content (b) Illocutionary content (c) Thematic structure (Clark & Clark. 1977. p.237 dan Soenjono. 2010. p.129).

2.2.1 Propositional Content
Inti dari kalimat terletak pada proposisinya, yang merupakan unit makna yang merefleksikan ide-ide yang akan disampaikan oleh si penutur. Deskripsi tentang sebuah apartement misalnya, munkin dapat dipecah-pecah menjadi sperti rangkaian berikut:

Anda memasuki pintu
Pintunya berada di depan
Tempat tidurnya berada disebelah kiri pintu masuk
Dan sebagainya

Sebelum proposisi-proposis sederhana tersebut dapat direalisasikan sebagai kalimat, proposisi tersebut digabungkan secara bermanfaat dan diberikan muatan ilokusioner dan struktur thematic. Hasilnya mungkin sebuah pernyataan yang tegas: Anda sedang memasuki pintu depan, atau sebuah permintaan, Masuki pintu depan. Hasilnya dapat berbeda dalam bentuk seperti Sebuah tempat tidur disebelah kiri versus disebelah kiri sebuah ranjang (Clark & Clark. 1977. p.237,238).

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: (1) Pemilahan peristiwa atau keadaan. (2) Perencanaan kalimat bias dipengaruhi oleh kodrat bahasa. Contoh dalam bahasa Banjar, ketika si penutur bertanya kepada orang yang dianggap lebih tua Pian handak kemana? (Anda mau kemana?). Berbeda dengan jika orang yang ditanya dianggap sama/seusia atau jauh lebih muda Ikam handak kemana? (Kamu mau kemana?). (3) Umumnya orang mengikuti cara penyampaian yang paling sederhana, kecuali ada alasan untuk berbuat lain, misal: karena sheriff umumnya lelaki, maka bila ada sheriff perempuan orang akan mengatakan The sheriff here is not a man bukan The sheriff here is a woman. (3) Juga, pada umumnya manusia bertitik tolak pandangannya dari segi positif ke segi negative, seperti How tall is your new boyfriend? bukan How short is your new boyfriend?

2.2.2 Illocutionary Content
Dalam merencanakan sebuah kalimat, si penutur harus memutuskan muatan ilokusinernya, yakni makna yang akan disampaikan itu akan diwujudkan dalam kalimat seperti apa. Disini peran tindak ujaran muncul (Soenjono. 2010. p.131).

Contoh proposisi: John will be here. Proposisi ini dapat dibuat dalam banyak tindak ujaran:

John will be here. (Suatu pernyataan)
Will John be here? (yes/no question)
I warn you that John will be here. (sebuah peringatan)
I bet you that John will be here. (sebuah pertaruhan)
Dan lain-lain

Pilihan merupakan hal yang penting dalam wacana tersebut. Tindak ujaran ini dapat dibuat dengan cara yang berbeda pula. Bagian yes/no question dapat diekspresikan secara langsung

Will John be here?

Atau secara tidak langsung:

Do you know whether John will be here?
Tell me whether or not John will be here.
Please let me know whether John will be here or not.

Si penutur mempunyai dua masalah. Pertama, tindak ujaran mana yang ingin dipakai? Kedua, bentuk mana yang akan diekspresikan?

2.2.3 Thematic Structure
Konsep ini berkaitan dengan penentuan berbagai unsur dalam kaitannya dengan fungsi gramatikal atau semantic dalam kalimat. Masalah yang harus dipecahkan oleh si penutur adalah opsi mana yang seharusnya dipilih untuk tujuan lanjutannya. Contoh,

Pak Iping melempari anjing itu (Active)
Anjing itu dilempari oleh Pak Iping (Passive)

Meski tampak sama, dua kalimat diatas berbeda. Kalimat pertama, penutur beranggapan bahwa Pak Iping mempunyai informasi lama (given information) dan informasi baru (new information) yang sedang disampaikan adalah melempari anjing itu. Sedangkan kalimat kedua, Anjing itu (new information) yang sedang dilempari oleh Pak Iping.

2.3 Perencanaan Produksi Konstituen
Pada tahap ini kata yang maknanya sesuai akan dipilih tepat seperti yang diinginkan. Ada banyak hal yang terlibat disini. Misal, satu referen mempunyai “julukan’ lebih dari satu. Ir. Soekarno, bisa dirujuk sebagai (a) presiden pertama RI, (b) proklamator bangsa, (c) pendiri Partai Nasionalis Indonesia (d) penentang gigih penjajahan Belanda (e) penggemar wanita, (f) ayah dari Megawati, dan sebagainya.

Faktor lain diantaranya yang berperan penting adalah konteks kalimat. Contoh:

Kemarin Erica baru beli sepatu
Sepatu itu berwarna merah muda

Jika si penutur menyebutkan sesuatu seperti sepatu (seperti kalimat pertama) lalu si penutur akan merujuk ke sepatu yang sama itu, maka rujukan kepada benda yang telah disebutkan sebelumnya itu harus kita tandai dengan itu (seperti pada kalimat kedua). Jika kata itu diganti jadi sebuah, missal Sebuah sepatu berwarnamerah muda, dan bukan sepatu itu, maka si penutur tidak sedang berbicara tentang sepatu yang baru saja dibeli Erica.

Jika yang diacu adalah bagian wajib dari sepatu (missal: sol, tali), maka yang digunakan bukan itu tetapi –nya seperti dalam kata berikut:

Solnya sudah lecet
Talinya sudah kotor


Pemilihan kata juga kadang ditentukan oleh prinsipel keberbedaan/distinguishability principle. Contoh (Clark & Clark. 1977. p.251 dan Soenjono. 2010. p.135):




Array Description

Set A The round one


Set B The small one


Set C The small round one


Set D The circle that is about 1 mm in diameter


Contoh:
(1) Beri saya yang bulat (A)
(2) Beri saya yang kecil (B)
(3) Beri sya yang bulat kecil (C)
(4) Beri saya lingkaran yang diameternya kira-kira 1 mm.

Dikutip dari buku Psikolinguistik








Tidak ada komentar:

Posting Komentar