Kamis, 29 September 2011
Minggu, 18 September 2011
WACANA BAHASA INDONESIA
Sejarah Singkat Kajian Wacana
Pada mulanya linguistik merupakan bagian dari filsafat.
Linguistik modern, yang dipelopori oleh Ferdinand de Saussure pada akhir abad
ke-19, mengkaji bahasa secara ilmiah. Kajian lingusitik modern pada umumnya
terbatas pada masalah unsur-unsur bahasa, seperti bunyi, kata, frase, dan
kalimat serta unsur makna (semantik). Kajian linguistik rupanya belum
memuaskan. Banyak permasalahan bahasa yang belum dapat diselesaikan. Akibatnya,
para ahli mencoba untuk mengembangkan disiplin kajian baru yang disebut
analisis wacana.
Analisis wacana menginterprestasi makna sebuah ujaran dengan
memperhatikan konteks, sebab konteks menentukan makna ujaran. Konteks meliputi
konteks linguistik dan konteks etnografii. Konteks linguistik berupa rangkaian
kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti sedangkan konteks etnografi
berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya, misalnya faktor
budaya masyarakat pemakai bahasa.
Manfaat melakukan kegiatan analisis wacana adalah memahami
hakikat bahasa, memahami proses belajar bahasa dan perilaku berbahasa.
Pengertian Wacana dan Analisis Wacana
Wacana merupakan satuan bahasa di atas tataran kalimat yang
digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu dapat
berupa rangkaian kalimat atau ujaran. Wacana dapat berbentuk lisan atau tulis
dan dapat bersifat transaksional atau interaksional. Dalam peristiwa komunikasi
secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses komunikasi antarpenyapa
dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara tulis, wacana terlihat sebagai
hasil dari pengungkapan ide/gagasan penyapa. Disiplin ilmu yang mempelajari
wacana disebut dengan analisis wacana. Analisis wacana merupakan suatu kajian
yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik
dalam bentuk tulis maupun lisan.
Persyaratan Terbentuknya Wacana
Penggunaan bahasa dapat berupa rangkaian kalimat atau
rangkaian ujaran (meskipun wacana dapat berupa satu kalimat atau ujaran).
Wacana yang berupa rangkaian kalimat atau ujaran harus mempertimbangkan
prinsip-prinsip tertentu, prinsip keutuhan (unity) dan kepaduan (coherent).
Wacana dikatakan utuh apabila kalimat-kalimat dalam wacana
itu mendukung satu topik yang sedang dibicarakan, sedangkan wacana dikatakan
padu apabila kalimat-kalimatnya disusun secara teratur dan sistematis, sehingga
menunjukkan keruntututan ide yang diungkapkan.
Elemen-elemen wacana adalah
unsur-unsur pembentuk teks wacana. Elemen-elemen itu tertata secara sistematis
dan hierarkis. Berdasarkan nilai informasinya ada elemen inti dan elemen luar
inti. Elemen inti adalah elemen yang berisi informasi utama, informasi yang
paling penting. Elemen luar inti adalah elemen yang berisi informasi tambahan,
informasi yang tidak sepenting informasi utama.
Berdasarkan sifat kehadirannya,
elemen wacana terbagi menjadi dua kategori, yakni elemen wajib dan elemen
manasuka. Elemen wajib bersifat wajib hadir, sedangkan elemen manasuka bersifat
boleh hadir dan boleh juga tidak hadir bergantung pada kebutuhan komunikasi.
Relasi Antarelemen dalam Wacana
Ada berbagai relasi antarelemen
dalam wacana. Relasi koordinatif adalah relasi antarelemen yang memiliki
kedudukan setara. Relasi subordinatif adalah relasi antarelemen yang
kedudukannya tidak setara. Dalam relasi subordinatif itu terdapat atasan dan
elemen bawahan. Relasi atribut adalah relasi antara elemen inti dengan atribut.
Relasi atribut berkaitan dengan relasi subordinatif karena relasi atribut juga
berarti relasi antara elemen atasan dengan elemen bawahan.
Relasi komplementatif adalah relasi
antarelemen yang bersifat saling melengkapi. Dalam relasi itu, masing-masing
elemen memiliki kedudukan yang otonom dalam membentuk teks. Dalam jenis ini tidak
ada elemen atasan dan bawahan.
Struktur wacana adalah bangun
konstruksi wacana, yakni organisasi elemen-elemen wacana dalam membentuk
wacana. Struktur wacana dapat diperikan berdasarkan peringkat keutamaan atau
pentingnya informasi dan pola pertukaran. Berdasarkan peringkat keutamaan
informasi ada wacana yang mengikuti pola segitiga tegak dan ada wacana yang
mengikuti pola segitiga terbalik. Berdasarkan mekanisme pertukaran dapat
dikemukakan pola-pola pertukaran berikut: (1) P-S, (2) T-J, (3) P-T, (4) T-T,
(5) Pr-S, dan (6) Pr-T.
REFERENSI DAN INFERENSI SERTA KOHESI DAN KOHERENSI WACANA
BAHASA INDONESIA
Referensi dan Inferensi Wacana Bahasa Indonesia
Referensi dalam analisis wacana
lebih luas dari telaah referensi dalam kajian sintaksis dan semantik. Istilah
referensi dalam analisis wacana adalah ungkapan kebahasaan yang dipakai seorang
pembicara/penulis untuk mengacu pada suatu hal yang dibicarakan, baik dalam
konteks linguistik maupun dalam konteks nonlinguistik. Dalam menafsirkan acuan
perlu diperhatikan, (a) adanya acuan yang bergeser, (b) ungkapan berbeda tetapi
acuannya sama, dan (c) ungkapan yang sama mengacu pada hal yang berbeda.
Inferensi adalah membuat simpulan
berdasarkan ungkapan dan konteks penggunaannya. Dalam membuat inferensi perlu
dipertimbangkan implikatur. Implikatur adalah makna tidak langsung atau makna
tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan (eksplikatur).
Kohesi dan Koherensi Wacana Bahasa Indonesia
Istilah kohesi mengacu pada hubungan
antarbagian dalam sebuah teks yang ditandai oleh penggunaan unsur bahasa
sebagai pengikatnya. Kohesi merupakan salah satu unsur pembentuk koherensi.
Oleh sebab itu, dalam sebuah teks koherensi lebih penting dari kohesi. Namun
bukan berarti kohesi tidak penting, Jenis alat kohesi ada tiga, yaitu
substitusi, konjungsi, dan leksikal.
Koherensi adalah kepaduan gagasan
antarbagian dalam wacana. Kohesi merupakan salah satu cara untuk membentuk
koherensi. Cara lain adalah menggunakan bentuk-bentuk yang mempunyai hubungan
parataksis dan hipotaksis (parataxis and hypotaxis). Hubungan parataksis itu
dapat diciptakan dengan menggunakan pernyataan atau gagasan yang sejajar
(coordinative) dan subordinatif. Penataan koordinatif berarti menata ide yang
sejajar secara beruntun.
JENIS-JENIS WACANA BAHASA INDONESIA
Wacana Lisan dan Tulis
Berdasarkan saluran yang digunakan
dalam berkomunikasi, wacana dibedakan atas wacana tulis dan wacana lisan.
Wacana lisan berbeda dari wacana tulis. Wacana lisan cenderung kurang
terstruktur (gramatikal), penataan subordinatif lebih sedikit, jarang
menggunakan piranti hubung (alat kohesi), frasa benda tidak panjang, dan
berstruktur topik-komen. Sebaliknya wacana tulis cenderung gramatikal, penataan
subordinatif lebih banyak, menggunakan piranti hubung, frasa benda panjang, dan
berstruktur subjek-predikat.
Berdasarkan jumlah peserta yang
terlibat pembicaraan dalam komunikasi, ada tiga jenis wacana, yaitu wacana
monolog, dialog, dan polilog. Bila dalam suatu komunikasi hanya ada satu
pembicara dan tidak ada balikan langsung dari peserta yang lain, maka wacana
yang dihasilkan disebut monolog. Dengan demikian, pembicara tidak berganti
peran sebagai pendengar. Bila peserta dalam komunikasi itu dua orang dan terjadi
pergantian peran (dari pembicara menjadi pendengar atau sebaliknya), maka
wacana yang dibentuknya disebut dialog. Jika peserta dalam komunikasi lebih
dari dua orang dan terjadi pergantian peran, maka wacana yang dihasilkan
disebut polilog.
Dilihat dari sudut pandang tujuan
berkomunikasi, dikenal ada wacana dekripsi, eksposisi, argumentasi, persuasi,
dan narasi. Wacana deskripsi bertujuan membentuk suatu citra (imajinasi)
tentang sesuatu hal pada penerima pesan. Aspek kejiwaan yang dapat mencerna
wacana narasi adalah emosi. Sedangkan wacana eksposisi bertujuan untuk
menerangkan sesuatu hal kepada penerima agar yang bersangkutan memahaminya.
Wacana eksposisi dapat berisi konsep-konsep dan logika yang harus diikuti oleh
penerima pesan. Oleh sebab itu, untuk memahami wacana eksposisi diperlukan
proses berpikir. Wacana argumentasi bertujuan mempengaruhi pembaca atau
pendengar agar menerima pernyataan yang dipertahankan, baik yang didasarkan
pada pertimbangan logika maupun emosional. Untuk mempertahankan argumen
diperlukan bukti yang mendukung. Wacana persuasi bertujuan mempengaruhi
penerima pesan agar melakukan tindakan sesuai yang diharapkan penyampai pesan.
Untuk mernpengaruhi ini, digunakan segala upaya yang memungkinkan penerima
pesan terpengaruh. Untuk mencapai tujuan tersebut, wacana persuasi kadang
menggunakan alasan yang tidak rasional. Wacana narasi merupakan satu jenis
wacana yang berisi cerita. Oleh karena itu, unsur-unsur yang biasa ada dalam
narasi adalah unsur waktu, pelaku, dan peristiwa.
Konteks adalah benda atau hal yang
berada bersama teks dan menjadi lingkungan atau situasi penggunaan bahasa.
Konteks tersebut dapat berupa konteks linguistik dan dapat pula berupa konteks
ekstralinguistik. Konteks linguistik yang juga berupa teks atau bagian teks dan
menjadi lingkungan sebuah teks dalam wacana yang sama dapat disebut konteks
ekstralinguistik berupa hal-hal yang bukan unsur bahasa, seperti partisipan,
topik, latar atau setting (tempat, waktu, dan peristiwa), saluran (bahasa lisan
atau tulis), bentuk komunikasi (dialog, monolog, atau polilog)
Pengguna bahasa harus memperhatikan
konteks agar dapat menggunakan bahasa secara tepat dan menentukan makna secara
tepat pula. Dengan kata lain, pengguna bahasa senantiasa terikat konteks dalam
menggunakan bahasa. Konteks yang harus diperhatikan adalah konteks linguistik
dan konteks ekstralinguistik.
Macam-macam Konteks
Konteks adalah sesuatu yang menyertai
atau yang bersama teks. Secara garis besar, konteks wacana dibedakan atas dua
kategori, yakni konteks linguistik dan konteks ekstralinguistik. Konteks
linguistik adalah konteks yang berupa unsur-unsur bahasa. Konteks linguistik
itu mencakup penyebutan depan, sifat kata kerja, kata kerja bantu, dan
proposisi positif
Di samping konteks ada juga koteks.
Koteks adalah teks yang berhubungan dengan sebuah teks yang lain. Koteks dapat
pula berupa unsur teks dalam sebuah teks.Wujud koteks bermacam-macam, dapat
berupa kalimat, pargraf, dan bahkan wacana.
Konteks ekstralinguistik adalah
konteks yang bukan berupa unsur-unsur bahasa. Konteks ekstralinguistik itu
mencakup praanggapan, partisipan, topik atau kerangka topik, latar, saluran,
dan kode. Partisipan adalah pelaku atau orang yang berpartisipasi dalam
peristiwa komunikasi berbahasa. Partisipan mencakup penutur, mitra tutur. dan
pendengar. Latar adalah tempat dan waktu serta peristiwa beradanya komunikasi.
Saluran adalah ragam bahasa dan sarana yang digunakan dalam penggunaan wacana.
Kode adalah bahasa atau dialek yang digunakan dalam wacana.
Dalam menganalisis wancana sasaran
utamanya bukan pada struktur kalimat tetapi pada status dan nilai fungsional
kalimat dalam konteks, baik itu konteks linguistik ataupun konteks
ekstralinguistik.
- Penggunaan konteks untuk mencari acuan, yaitu pembentukan acuan berdasarkan konteks linguistik.
- Penggunaan konteks untuk menentukan maksud tuturan, yaitu bahwa maksud sebuah tuturan ditentukan oleh konteks wancana.
- Penggunaan konteks untuk mencari bentuk tak terujar yaitu bentuk yang memiliki unsur tak terujar atau bentuk eliptis adalah bentuk yang hanya dapat ditentukan berdasarkan konteks.
ANALISIS WACANA
Prinsip Interpretasi Lokal dan Prinsip Analisis
Dalam analisis wacana berlaku dua
prinsip, yakni prinsip interpretasi lokal dan prinsip analogi. Prinsip
interpretasi lokal adalah prinsip interpretasi berdasarkan konteks, baik
konteks linguistik atau koteks maupun konteks nonlinguistik. Konteks
nonlinguistik yang merupakan konteks lokal tidak hanya berupa tempat, tetapi
juga dapat berupa waktu, ranah penggunaan wacana, dan partisipan.
Prinsip interpretasi analogi adalah
prinsip interpretasi suatu wacana berdasarkan pengalaman terdahulu yang sama
atau yang sesuai. Dengan interpretasi analogi itu, analis sudah dapat memahami
wacana dengan konteks yang relevan saja. Hal itu berarti bahwa analis tidak
harus memperhitungkan semua konteks wancana.
Skemata dalam Analisis Wacana
Skemata adalah pengetahuan yang
terkemas secara sistematis dalam ingatan manusia. Skemata itu memiliki struktur
pengendalian, yakni cara pengaktifan skemata sesuai dengan kebutuhan. Ada dua
cara yang disebut pengaktifan dalam struktur itu, yakni (1) cara pengaktifan
dari atas ke bawah dan (2) cara pengaktifan dari bawah ke atas. Pengaktifan
atas ke bawah adalah proses pengendalian skemata dari konsep ke data atau dari
keutuhan ke bagian. Pengaktifan bawah ke atas adalah proses pengendalian
skemata dari data ke konsep atau dari bagian ke keutuhan.
Skemata berfungsi baik bagi
pembaca/pendengar wacana maupun bagi analis wacana. Bagi pendengar/pembaca,
skemata berfungsi untuk memahami wacana. Bagi analis wacana, di samping
berfungsi untuk memahami wacana, skemata juga berfungsi untuk melakukan
analisis berbagai aspek wacana: elemen wacana, struktur wacana, acuan
kewacanaan, koherensi dan kohesi wacana, dan lain-lain.
Kegagalan pemahaman wacana terjadi
karena tiga kemungkinan. Pertama, pendengar/pembaca mungkin tidak mempunyai
skemata yang sesuai dengan teks yang dihadapinya. Kedua, pendengar/pembaca
mungkin sudah mempunyai skemata yang sesuai, tetapi petunjuk-petunjuk yang
disajikan oleb penulis tidak cukup memberikan saran tentang skemata yang
dibutuhkan. Ketiga, pembaca, mungkin mendapatkan penafsiran wacana secara tetap
sehingga gagal memahami maksud penutur.
Analisis Kohesi dan Koherensi
Praktik analisis wacana dilaksanakan dengan menerapkan
prinsip interpretasi lokal dan prinsip interpretasi analogi. Analisis wacana
dapat diarahkan pada: struktur, kohesi, dan koherensi, yang dapat
dioperasionalkan antara lain untuk menetapkan hubungan antarelemen wacana dan
alat-alat kohesi yang berlaku dalam sebuah teks. Dalam analisis itu diterapkan
konteks yang relevan dengan kebutuhan analisis.
Sumber Buku Wacana Bahasa Indonesia,
karya Suparno
dan Martutik
Selasa, 06 September 2011
Karakteristik Bahasa yang Mendukung Pengembangan Ilmu
Berdasarkan paparan-paparan di atas, sangat jelas bahwa bahasa peran bahasa sebagai media berpikir komunikasi sangat dibutuhkan dalam setiap aktivitas pengembangan ilmu. Akan tetapi tidak semua bahasa dapat digunakan untuk tujuan ini, bahasa yang dikembangkan oleh masyarakat yang tidak menjalani budaya ilmiah justru akan menghambat pengembangan ilmu. Rahmat (2005: 276) menjelaskan konsep-konsep dalam bahasa cenderung manghambat atau mempercepat proses pemikiran tertentu.
Diantara bahasa-bahasa di dunia, ada yang sangat mendukung untuk memikirkan masalah-masalah filsafat. Sebagian lagi sangat sesuai digunakan untuk membahas perdagangan. Ada juga yang sulit dipakai bahkan untuk memecahkan masalah-masalah matematika sederhana. Menurut Suriasumantri (1990: 301) dalam kapasitasnya sebagai media komunikasi, bahasa berfungsi untuk menyampaikan pesan berkonotasi perasaan (emotif), pesan berkonotasi sikap (afektif), dan pesan berkonotasi pikiran (penalaran). Secara alami, tidak semua bahasa dikembangkan oleh penuturnya dengan memberikan porsi yang sama terhadap kemampuan menyampaikan ketiga jenis pesan itu. Masyarakat yang gemar mengembangkan ilmu pastilah memiliki bahasa yang baik dalam fungsinya sebagai media penalaran.
Unsur bahasa yang mungkin berperan paling sentral dalam fungsinya sebagai media berpikir dan media komunikasi adalah kata-kata. Dengan memahami makna kata-kata yang membentuk sebuah kalimat, meskipun dia tidak memahami struktur kalimat tersebut, biasanya orang bisa ‘menebak’ pesan yang disampaikan dengan tingkat akurasi yang baik. Sehubungan itu, kriteria utama bahasa yang mendukung pengembangan ilmu adalah bahasa yang kaya dengan kosa kata ilmiah, yang maknanya sudah disepakati paling tidak oleh para ilmuwan.
Peran penting kosa kata dalam berpikir dapat ditelusuri melalui kenyataan bahwa keterbatasan kosa kata akan membuat seseorang cenderung tidak berpikir logis, termasuk dalam menarik kesimpulan. Ilustrasi berikut, yang menggambarkan pengalaman Willy yang diakibatkan oleh kurangnya pemahaman terhadap kata ‘ibu’ dapat menjelaskan kecenderungan ini.
Willy, a six-year-old boy walked up to his father one day and announced, 'Daddy, I'd like to get married.'
His father replied hesitantly, 'Sure, son, do you have anyone special in mind?'
'Yes,' answered Willy. 'I want to marry Grandma.'
'Now, wait a minute,' said his father. 'You don't think I'd let you get married with my mother, do you?'
'Why not?' the boy asked. 'You married mine.'
Dilihat dari sisi kekayaan kosakata yang mendukung pengembangan ilmu, bahasa Inggris kelihatannya merupakan pilihan utama untuk dijadikan sebagai ‘linguafranca’ ilmiah bagi ilmuwan di seluruh dunia. Kekayaan kosa kata bahasa Inggris terungkap dari survey yang mengungkapkan bahwa bahasa Inggris memiliki sekitas 450.000 kata (1981); bahasa Prancis dan Rusia masing masing hanya memiliki sekitar 150.000 kata (1983); pada tahun 1991, bahasa Indonesia memiliki sekitar 72.000 kata (Huda, 1999). Dalam konteks pengembangan ilmu di Indonesia, meskipun bahasa Inggris memiliki unsur-unsur yang lebih lengkap untuk dijadikan bahasa ilmu, bahasa Indonesia ditetapkan menjadi prioritas utama dengan pertimbangan bahwa bahasa juga memiliki fungsi integratif, atau sarana untuk mempersatukan bangsa. Karena pilihan sudah dibuat, maka bahasa Indonesia harus didorong agar kaya denga kosa kata yang mendukung pengembangan ilmu.
Dilihat dari sisi ini, kondisi bahasa Indonesia, harus diakui, masih memprihatinkan. Sebagai contoh, meskipun sebagian orang sudah memberi pengertian yang berbeda kepada ilmu dan pengetahuan, di Indonesia istilah ilmu pengetahuan masih sering digunakan sebagai sebuah pleonasme (pemakaian lebih daripada satu perkataan yang sama artinya). Akibatnya, makna istilah ilmu dan pengetahuan menjadi kabur. Keadaan ini tidak berlangsung hanya di antara masyarakat awam saja, tetapi juga di lembaga-lembaga pendidikan. Pemberian nama mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) merupakan beberapa contoh penggunaan pleonasme istilah ilmu pengetahuan.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring (2008) juga masih menggunakan pleonasme ini. Salah satu istilah yang didaftarkan di bawah kata ilmu dalam kamus itu adalah ’ilmu pengetahuan’ yang didefinisikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yg disusun secara logis dan bersistem dengan memperhitungkan sebab dan akibat.” Bahkan LIPI, lembaga pemerintah yang dibentuk dan ditugaskan sebagai penggerak pengembangan ilmu di Indonesia masih menggunakan istilah ilmu pengetahuan untuk merujuk pada ilmu (science).
Tidak adanya pemahaman yang sama terhadap terminologi yang digunakan dalam wacana apapun jelas sangat merugikan, karena misinterpretasi akan timbul. Hal ini dapat dilihat dari contoh berikut.
Seorang mahasiswa Rusia yang kurang menguasai pemahaman lintas budaya disuruh menerjemahkan salah satu ayat dari Bibel: ”the spirit is willing but the flesh is weak”, yang bermakna “Roh memang kuat, tetapi tubuh lemah.” Sang mahasiswa menterjemahkan ayat itu ke dalam bahasa Rusia dengan makna ”the vodka is good but the meat is poor”.
Diantara bahasa-bahasa di dunia, ada yang sangat mendukung untuk memikirkan masalah-masalah filsafat. Sebagian lagi sangat sesuai digunakan untuk membahas perdagangan. Ada juga yang sulit dipakai bahkan untuk memecahkan masalah-masalah matematika sederhana. Menurut Suriasumantri (1990: 301) dalam kapasitasnya sebagai media komunikasi, bahasa berfungsi untuk menyampaikan pesan berkonotasi perasaan (emotif), pesan berkonotasi sikap (afektif), dan pesan berkonotasi pikiran (penalaran). Secara alami, tidak semua bahasa dikembangkan oleh penuturnya dengan memberikan porsi yang sama terhadap kemampuan menyampaikan ketiga jenis pesan itu. Masyarakat yang gemar mengembangkan ilmu pastilah memiliki bahasa yang baik dalam fungsinya sebagai media penalaran.
Unsur bahasa yang mungkin berperan paling sentral dalam fungsinya sebagai media berpikir dan media komunikasi adalah kata-kata. Dengan memahami makna kata-kata yang membentuk sebuah kalimat, meskipun dia tidak memahami struktur kalimat tersebut, biasanya orang bisa ‘menebak’ pesan yang disampaikan dengan tingkat akurasi yang baik. Sehubungan itu, kriteria utama bahasa yang mendukung pengembangan ilmu adalah bahasa yang kaya dengan kosa kata ilmiah, yang maknanya sudah disepakati paling tidak oleh para ilmuwan.
Peran penting kosa kata dalam berpikir dapat ditelusuri melalui kenyataan bahwa keterbatasan kosa kata akan membuat seseorang cenderung tidak berpikir logis, termasuk dalam menarik kesimpulan. Ilustrasi berikut, yang menggambarkan pengalaman Willy yang diakibatkan oleh kurangnya pemahaman terhadap kata ‘ibu’ dapat menjelaskan kecenderungan ini.
Willy, a six-year-old boy walked up to his father one day and announced, 'Daddy, I'd like to get married.'
His father replied hesitantly, 'Sure, son, do you have anyone special in mind?'
'Yes,' answered Willy. 'I want to marry Grandma.'
'Now, wait a minute,' said his father. 'You don't think I'd let you get married with my mother, do you?'
'Why not?' the boy asked. 'You married mine.'
Dilihat dari sisi kekayaan kosakata yang mendukung pengembangan ilmu, bahasa Inggris kelihatannya merupakan pilihan utama untuk dijadikan sebagai ‘linguafranca’ ilmiah bagi ilmuwan di seluruh dunia. Kekayaan kosa kata bahasa Inggris terungkap dari survey yang mengungkapkan bahwa bahasa Inggris memiliki sekitas 450.000 kata (1981); bahasa Prancis dan Rusia masing masing hanya memiliki sekitar 150.000 kata (1983); pada tahun 1991, bahasa Indonesia memiliki sekitar 72.000 kata (Huda, 1999). Dalam konteks pengembangan ilmu di Indonesia, meskipun bahasa Inggris memiliki unsur-unsur yang lebih lengkap untuk dijadikan bahasa ilmu, bahasa Indonesia ditetapkan menjadi prioritas utama dengan pertimbangan bahwa bahasa juga memiliki fungsi integratif, atau sarana untuk mempersatukan bangsa. Karena pilihan sudah dibuat, maka bahasa Indonesia harus didorong agar kaya denga kosa kata yang mendukung pengembangan ilmu.
Dilihat dari sisi ini, kondisi bahasa Indonesia, harus diakui, masih memprihatinkan. Sebagai contoh, meskipun sebagian orang sudah memberi pengertian yang berbeda kepada ilmu dan pengetahuan, di Indonesia istilah ilmu pengetahuan masih sering digunakan sebagai sebuah pleonasme (pemakaian lebih daripada satu perkataan yang sama artinya). Akibatnya, makna istilah ilmu dan pengetahuan menjadi kabur. Keadaan ini tidak berlangsung hanya di antara masyarakat awam saja, tetapi juga di lembaga-lembaga pendidikan. Pemberian nama mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) merupakan beberapa contoh penggunaan pleonasme istilah ilmu pengetahuan.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring (2008) juga masih menggunakan pleonasme ini. Salah satu istilah yang didaftarkan di bawah kata ilmu dalam kamus itu adalah ’ilmu pengetahuan’ yang didefinisikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yg disusun secara logis dan bersistem dengan memperhitungkan sebab dan akibat.” Bahkan LIPI, lembaga pemerintah yang dibentuk dan ditugaskan sebagai penggerak pengembangan ilmu di Indonesia masih menggunakan istilah ilmu pengetahuan untuk merujuk pada ilmu (science).
Tidak adanya pemahaman yang sama terhadap terminologi yang digunakan dalam wacana apapun jelas sangat merugikan, karena misinterpretasi akan timbul. Hal ini dapat dilihat dari contoh berikut.
Seorang mahasiswa Rusia yang kurang menguasai pemahaman lintas budaya disuruh menerjemahkan salah satu ayat dari Bibel: ”the spirit is willing but the flesh is weak”, yang bermakna “Roh memang kuat, tetapi tubuh lemah.” Sang mahasiswa menterjemahkan ayat itu ke dalam bahasa Rusia dengan makna ”the vodka is good but the meat is poor”.
Senin, 05 September 2011
REGISTER
Register
Istilah register kali pertama digunakan dalam pengertian keberagaman teks . Re-gister merupakan konsep semantis yang da-pat didefinisikan sebagai suatu susunan makna yang dihubungkan secara khusus dengan susunan situasi tertentu dari medan, pelibat, dan sarana (Halliday & Hasan, 1992:53).
Terdapat dua hal pokok dalam penger-tian register. Pertama, register disamakan dengan gaya (style), yakni veriasi dalam tuturan atau tulisan seseorang. Gaya umum-nya bervariasi dari yang bersifat sangat akrab sampai yang amat formal menurut jenis situasi, orang, atau pribadi yang dituju, lokasi, topik yang didiskusikan, dan seba-gainya. Kedua, register adalah variasi tutu-ran yang digunakan oleh kelompok tertentu yang biasanya memiliki pekerjaan yang sa-ma atau kepentingan yang sama.
Register dapat diketahui dari karakteris-tik leksikogramatis dan fonologis yang se-cara khusus menyertai atau menyatakan
makna-makna tertentu. Ciri-ciri bentuk lek-sikon, gramatis, dan fonologis tertentu men-jadi petunjuk suatu register tertentu. Regis¬ter politik, misalnya, memiliki karakteristik yang membedakan dengan register akade-mik. Register kedokteran memiliki karakte-ristik yang membedakan dengan register hukum. Register tertentu memiliki karakte-ristik yang membedakan dengan register lainnya.
Istilah register kali pertama digunakan dalam pengertian keberagaman teks . Re-gister merupakan konsep semantis yang da-pat didefinisikan sebagai suatu susunan makna yang dihubungkan secara khusus dengan susunan situasi tertentu dari medan, pelibat, dan sarana (Halliday & Hasan, 1992:53).
Terdapat dua hal pokok dalam penger-tian register. Pertama, register disamakan dengan gaya (style), yakni veriasi dalam tuturan atau tulisan seseorang. Gaya umum-nya bervariasi dari yang bersifat sangat akrab sampai yang amat formal menurut jenis situasi, orang, atau pribadi yang dituju, lokasi, topik yang didiskusikan, dan seba-gainya. Kedua, register adalah variasi tutu-ran yang digunakan oleh kelompok tertentu yang biasanya memiliki pekerjaan yang sa-ma atau kepentingan yang sama.
Register dapat diketahui dari karakteris-tik leksikogramatis dan fonologis yang se-cara khusus menyertai atau menyatakan
makna-makna tertentu. Ciri-ciri bentuk lek-sikon, gramatis, dan fonologis tertentu men-jadi petunjuk suatu register tertentu. Regis¬ter politik, misalnya, memiliki karakteristik yang membedakan dengan register akade-mik. Register kedokteran memiliki karakte-ristik yang membedakan dengan register hukum. Register tertentu memiliki karakte-ristik yang membedakan dengan register lainnya.
Minggu, 04 September 2011
JADWAL KULIAH KELAS LT SMA KS A
JADWAL KULIAH
SENIN JAM 13.00 - 15.20 SEMINAR PROBLEMATIKA PBI R.305 DOSEN JOKO PRIYANA, Ph.D.
SELASA JAM 15.40 - 18.00 PRAKTIK PBI R.100B DOSEN Dr.AGUS WIDYANTORO
KAMIS JAM 07.30 - 10.00 SEMINAR PROPOSAL TESIS R.1.14 DOSEN Prof.Dr.HARYADI & Dr.SUFRIATI TANJUNG
JAM 13.OO - 15.20 KAJIAN WACANA R.200B DOSEN Dr.SUWARNA
Untuk lebih jelasnya bisa di download Jadwal Seluruhnya di bawah ini.
http://hotfile.com/dl/128350927/fed8ccd/JADWAL_SEMESTER_GANJIL_DIBUAT_TGL_240811.pdf.html
SENIN JAM 13.00 - 15.20 SEMINAR PROBLEMATIKA PBI R.305 DOSEN JOKO PRIYANA, Ph.D.
SELASA JAM 15.40 - 18.00 PRAKTIK PBI R.100B DOSEN Dr.AGUS WIDYANTORO
KAMIS JAM 07.30 - 10.00 SEMINAR PROPOSAL TESIS R.1.14 DOSEN Prof.Dr.HARYADI & Dr.SUFRIATI TANJUNG
JAM 13.OO - 15.20 KAJIAN WACANA R.200B DOSEN Dr.SUWARNA
Untuk lebih jelasnya bisa di download Jadwal Seluruhnya di bawah ini.
http://hotfile.com/dl/128350927/fed8ccd/JADWAL_SEMESTER_GANJIL_DIBUAT_TGL_240811.pdf.html
Paradigma Postpositivsm
Ontologi: Critical Realism.Kenyataan diasumsikan dengan keberadaan tetapi hanya pemahamannya yang tidak sempurna karena berdasarkan pada cacatnya intelektual manusia dan sifat dasar dari gejala alam.Ontologi lambangkan dengan critical realism (cook & Campbell, 1979) karena sikap pendukung yang mengklaim tentang realitas harus tunduk pada pemeriksaan kritis seluas mungkin untuk memfasilitasi menahan realitas sedekat mungkin (tetapi tidak pernah sempurna)
Epistemologi: Modifikasi dualis / objectivist.Dualism sebagian besar ditinggalkan tidak mungkin untuk mempertahankan, tapi objektivitas tetap menjadi "ideal peraturan" penekanan khusus ditempatkan pada eksternal "wali" objektivitas seperti tradisi kritis (Apakah "menemukan" sesuai dengan yang telah ada sebelumnya knowedge dan?) masyarakat kritis (seperti editor, wasit, dan rekan profesional). temuan Direplikasi mungkin benar (tapi selalu tunduk pada pemalsuan)
Metodologi: Modiefied eksperimental / manipulative.Emphasis adalah tempat pada "multiplism kritis" (versi diperbaharui triagulation) sebagai cara memalsukan (bukan memverifikasi) metodologi hypotheses.The bertujuan untuk memperbaiki beberapa masalah yang disebutkan di atas (kritik intraparadigm) dengan melakukan penyelidikan dalam pengaturan alam lebih, mengumpulkan informasi situasional lebih, dan penemuan reintroducting sebagai unsur di dalam penyelidikan, dan dalam ilmu-ilmu sosial khususnya, soliciating sudut pandang emik untuk membantu dalam menentukan makna dan tujuan bahwa orang-orang menganggap tindakan mereka, serta berkontribusi untuk "grounded theory" (Glaser & Strauss, 1967; Strauss & Corbin, 1990). Semua tujuan ini dicapai terutama melalui peningkatan utilisasi teknik kualitatif.
Tujuan Paradigma postposivisme penyelidikan adalah penjelasan (von Wright, 1971), akhirnya memungkinkan prediksi dan kontrol dari fenomena, baik fisik maupun manusia. Sebagai Hesse (1980) telah menyarankan, kriteria utimate untuk kemajuan dalam paradigma ini adalah bahwa kemampuan para ilmuwan untuk memprediksi dan kontrol harus meningkatkan dari waktu ke waktu. Para reduksionisme dan deteminism tersirat oleh posisi ini harus diperhatikan. penyelidik ini dilemparkan dalam peran "ahli", sebuah situasi yang tampaknya penghargaan khusus, bahkan mungkin ketidaklayakan, hak istimewa kepada penyidik.
Sifat pengetahuan terdiri dari hipotesis nonfalsified yang dapat dianggap sebagai fakta kemungkinan atau hukum.
Pengetahuan terakumulasi dengan proses accreation, dengan setiap fakta atau fakta kemungkinan berfungsi sebagai semacam blok bangunan itu, ketika ditempatkan ke dalam ceruk yang tepat, menambah tumbuh bentuk generalisasi atau menyebabkan "bangunan pengetahuan." Ketika fakta mengambil hubungan efek, mereka dapat digunakan paling efisien untuk prediksi dan kontrol. Generalisasi maka dapat dilakukan, dengan keyakinan diprediksi, untuk populasi pengaturan.
Kriteria yang tepat adalah tolok ukur konvensional atas "kekakuan": validitas internal (isomorfisma temuan dengan realitas), validitas eksternal (generalisasi), keandalan (dalam arti stabilitas), dan objektivitas (dan netral pengamat menjauhkan). Kriteria ini tergantung pada posisi ontologis realis, tanpa asumsi, isomorfisma temuan dengan realitas tidak dapat memiliki makna, generalisasi yang ketat untuk populasi induk tidak mungkin, stabilitas tidak bisa dinilai untuk penyelidikan fenomena jika fenomena itu sendiri bisa berubah, dan objektivitas tidak dapat tercapai karena tidak ada dari salah satu yang bisa "jauh".
Peran postposivism nilai secara khusus dikesampingkan, memang, paradigma ini diklaim sebagai "bebas nilai" berdasarkan posture.Values epistemologis perusahaan dilihat sebagai variabel pengganggu yang tidak dapat diijinkan peran dalam tujuan penyelidikan putatively (bahkan ketika objektifitas selalu , itu kasus postpositivsm, tetapi yang ideal regulasi).
Tempat etika adalah suatu pertimbangan penting, dan itu diambil sangat serius oleh inquirers, tetapi ekstrinsik untuk proses penyelidikan itself.Hences perilaku etis secara formal diawasi oleh mekanisme eksternal, seperti kode perilaku profesional dan manusia committees.Futher subyek , yang undergirding ontologi paradigma realis ini menyediakan miring terhadap pemanfaatan penipuan, yang, ia berpendapat dalam kasus-kasus tertentu, diperlukan untuk menentukan bagaimana "hal-hal yang sebenarnya dan bekerja" atau demi beberapa "lebih tinggi sosial yang baik" atau beberapa "kebenaran lebih jelas" Bok, 1978, 1982: Diener & Crandall, 1978).
Suara penanya adalah bahwa dari "ilmuwan tertarik" menginformasikan para pengambil keputusan, pembuat kebijakan, dan agen perubahan, yang mandiri menggunakan informasi ilmiah, setidaknya sebagian, untuk membentuk, menjelaskan, dan membenarkan tindakan, kebijakan, dan proposal perubahan.
Implikasi dari setiap paradigma untuk pelatihan inquirers pemula dilatih cara paralel modus positivis, tetapi dengan penambahan metode kualitatif, sering untuk tujuan ameliorating masalah tercantum dalam paragraf pembukaan bab ini.
Pendukung kedua paradigma, diberikan orientasi dasar mereka, mengambil posisi bahwa semua paradigma dapat accomodated-yaitu, bahwa ada, atau akan ditemukan ada, beberapa struture rasional umum untuk mana semua pertanyaan tentang perbedaan cen dirujuk untuk resolusi . postur ini reduksionis dan mengasumsikan kemungkinan-by-point perbandingan point (commensurability), isu tentang yang ada terus menjadi banyak perselisihan.
Para pendukung positivisme diperoleh hegemoni selama beberapa abad terakhir sebagai Aristoteles dan teologis paradigma sebelumnya adalah abondoned.But jubah hegemoni telah secara bertahap dalam beberapa dekade terakhir jatuh di pundak postpositivism tersebut. "The" alami "ahli waris positivism.Postpositivism (dan memang positivis sisa banyak) cenderung untuk mengendalikan outlet publikasi, sumber dana, promosi dan mekanisme kepemilikan, komite disertasi, dan sumber-sumber daya dan influence.They itu, setidaknya sampai tahun 1980, "di" kelompok dan melanjutkan untuk mewakili suara terkuat dalam pengambilan keputusan profesional.
What is the particular problem you have to resolve? Apa yang menjadi masalah khusus Anda harus menyelesaikan? Defining the problem is the critical step. Mendefinisikan masalah merupakan langkah penting. The accurate definition of a problem affects all the steps that follow. Definisi akurat masalah mempengaruhi semua langkah yang mengikuti. If a problem is defined inaccurately, every other step in the decision-making process will be based on that incorrect point. Jika masalah didefinisikan tidak akurat, setiap langkah lain dalam proses pengambilan keputusan akan didasarkan pada titik yang salah. A motorist tells a mechanic that her car is running rough. Seorang pengendara motor mengatakan seorang mekanik yang mobilnya sedang berjalan kasar. This is a symptom of a problem or problems. Ini adalah gejala dari masalah atau masalah. The mechanic begins by diagnosing the possible causes of a rough-running engine, checking each possible cause based on the mechanic's experience. mekanik dimulai dengan mendiagnosa kemungkinan penyebab suatu-menjalankan mesin kasar, memeriksa setiap penyebab yang mungkin didasarkan pada montir pengalaman. The mechanic may find one problem-a faulty spark plug. montir mungkin menemukan satu masalah-satu busi rusak. If this is the problem, changing the plug will result in a smooth-running engine. Jika ini masalahnya, mengubah pasang akan menghasilkan-menjalankan mesin halus. If not, then a problem still exists. Jika tidak, maka masalah masih ada. Only a road test will tell for sure. Hanya tes jalan akan memberi tahu dengan pasti. Finding a solution to the problem will be greatly aided by its proper identification. Mencari solusi untuk masalah ini akan sangat dibantu oleh identifikasi yang tepat. The consequences of not properly defining the problem are wasted time and energy. Konsekuensi dari tidak benar mendefinisikan masalah adalah membuang-buang waktu dan energi. This is also the possibility of hearing “What, that again! Ini juga kemungkinan mendengar "Apa, itu lagi! We just solved that problem last month, or at least we thought we did.” Kami hanya menyelesaikan masalah yang bulan lalu, atau setidaknya kita pikir kita lakukan. "
OLEH KRN
Epistemologi: Modifikasi dualis / objectivist.Dualism sebagian besar ditinggalkan tidak mungkin untuk mempertahankan, tapi objektivitas tetap menjadi "ideal peraturan" penekanan khusus ditempatkan pada eksternal "wali" objektivitas seperti tradisi kritis (Apakah "menemukan" sesuai dengan yang telah ada sebelumnya knowedge dan?) masyarakat kritis (seperti editor, wasit, dan rekan profesional). temuan Direplikasi mungkin benar (tapi selalu tunduk pada pemalsuan)
Metodologi: Modiefied eksperimental / manipulative.Emphasis adalah tempat pada "multiplism kritis" (versi diperbaharui triagulation) sebagai cara memalsukan (bukan memverifikasi) metodologi hypotheses.The bertujuan untuk memperbaiki beberapa masalah yang disebutkan di atas (kritik intraparadigm) dengan melakukan penyelidikan dalam pengaturan alam lebih, mengumpulkan informasi situasional lebih, dan penemuan reintroducting sebagai unsur di dalam penyelidikan, dan dalam ilmu-ilmu sosial khususnya, soliciating sudut pandang emik untuk membantu dalam menentukan makna dan tujuan bahwa orang-orang menganggap tindakan mereka, serta berkontribusi untuk "grounded theory" (Glaser & Strauss, 1967; Strauss & Corbin, 1990). Semua tujuan ini dicapai terutama melalui peningkatan utilisasi teknik kualitatif.
Tujuan Paradigma postposivisme penyelidikan adalah penjelasan (von Wright, 1971), akhirnya memungkinkan prediksi dan kontrol dari fenomena, baik fisik maupun manusia. Sebagai Hesse (1980) telah menyarankan, kriteria utimate untuk kemajuan dalam paradigma ini adalah bahwa kemampuan para ilmuwan untuk memprediksi dan kontrol harus meningkatkan dari waktu ke waktu. Para reduksionisme dan deteminism tersirat oleh posisi ini harus diperhatikan. penyelidik ini dilemparkan dalam peran "ahli", sebuah situasi yang tampaknya penghargaan khusus, bahkan mungkin ketidaklayakan, hak istimewa kepada penyidik.
Sifat pengetahuan terdiri dari hipotesis nonfalsified yang dapat dianggap sebagai fakta kemungkinan atau hukum.
Pengetahuan terakumulasi dengan proses accreation, dengan setiap fakta atau fakta kemungkinan berfungsi sebagai semacam blok bangunan itu, ketika ditempatkan ke dalam ceruk yang tepat, menambah tumbuh bentuk generalisasi atau menyebabkan "bangunan pengetahuan." Ketika fakta mengambil hubungan efek, mereka dapat digunakan paling efisien untuk prediksi dan kontrol. Generalisasi maka dapat dilakukan, dengan keyakinan diprediksi, untuk populasi pengaturan.
Kriteria yang tepat adalah tolok ukur konvensional atas "kekakuan": validitas internal (isomorfisma temuan dengan realitas), validitas eksternal (generalisasi), keandalan (dalam arti stabilitas), dan objektivitas (dan netral pengamat menjauhkan). Kriteria ini tergantung pada posisi ontologis realis, tanpa asumsi, isomorfisma temuan dengan realitas tidak dapat memiliki makna, generalisasi yang ketat untuk populasi induk tidak mungkin, stabilitas tidak bisa dinilai untuk penyelidikan fenomena jika fenomena itu sendiri bisa berubah, dan objektivitas tidak dapat tercapai karena tidak ada dari salah satu yang bisa "jauh".
Peran postposivism nilai secara khusus dikesampingkan, memang, paradigma ini diklaim sebagai "bebas nilai" berdasarkan posture.Values epistemologis perusahaan dilihat sebagai variabel pengganggu yang tidak dapat diijinkan peran dalam tujuan penyelidikan putatively (bahkan ketika objektifitas selalu , itu kasus postpositivsm, tetapi yang ideal regulasi).
Tempat etika adalah suatu pertimbangan penting, dan itu diambil sangat serius oleh inquirers, tetapi ekstrinsik untuk proses penyelidikan itself.Hences perilaku etis secara formal diawasi oleh mekanisme eksternal, seperti kode perilaku profesional dan manusia committees.Futher subyek , yang undergirding ontologi paradigma realis ini menyediakan miring terhadap pemanfaatan penipuan, yang, ia berpendapat dalam kasus-kasus tertentu, diperlukan untuk menentukan bagaimana "hal-hal yang sebenarnya dan bekerja" atau demi beberapa "lebih tinggi sosial yang baik" atau beberapa "kebenaran lebih jelas" Bok, 1978, 1982: Diener & Crandall, 1978).
Suara penanya adalah bahwa dari "ilmuwan tertarik" menginformasikan para pengambil keputusan, pembuat kebijakan, dan agen perubahan, yang mandiri menggunakan informasi ilmiah, setidaknya sebagian, untuk membentuk, menjelaskan, dan membenarkan tindakan, kebijakan, dan proposal perubahan.
Implikasi dari setiap paradigma untuk pelatihan inquirers pemula dilatih cara paralel modus positivis, tetapi dengan penambahan metode kualitatif, sering untuk tujuan ameliorating masalah tercantum dalam paragraf pembukaan bab ini.
Pendukung kedua paradigma, diberikan orientasi dasar mereka, mengambil posisi bahwa semua paradigma dapat accomodated-yaitu, bahwa ada, atau akan ditemukan ada, beberapa struture rasional umum untuk mana semua pertanyaan tentang perbedaan cen dirujuk untuk resolusi . postur ini reduksionis dan mengasumsikan kemungkinan-by-point perbandingan point (commensurability), isu tentang yang ada terus menjadi banyak perselisihan.
Para pendukung positivisme diperoleh hegemoni selama beberapa abad terakhir sebagai Aristoteles dan teologis paradigma sebelumnya adalah abondoned.But jubah hegemoni telah secara bertahap dalam beberapa dekade terakhir jatuh di pundak postpositivism tersebut. "The" alami "ahli waris positivism.Postpositivism (dan memang positivis sisa banyak) cenderung untuk mengendalikan outlet publikasi, sumber dana, promosi dan mekanisme kepemilikan, komite disertasi, dan sumber-sumber daya dan influence.They itu, setidaknya sampai tahun 1980, "di" kelompok dan melanjutkan untuk mewakili suara terkuat dalam pengambilan keputusan profesional.
What is the particular problem you have to resolve? Apa yang menjadi masalah khusus Anda harus menyelesaikan? Defining the problem is the critical step. Mendefinisikan masalah merupakan langkah penting. The accurate definition of a problem affects all the steps that follow. Definisi akurat masalah mempengaruhi semua langkah yang mengikuti. If a problem is defined inaccurately, every other step in the decision-making process will be based on that incorrect point. Jika masalah didefinisikan tidak akurat, setiap langkah lain dalam proses pengambilan keputusan akan didasarkan pada titik yang salah. A motorist tells a mechanic that her car is running rough. Seorang pengendara motor mengatakan seorang mekanik yang mobilnya sedang berjalan kasar. This is a symptom of a problem or problems. Ini adalah gejala dari masalah atau masalah. The mechanic begins by diagnosing the possible causes of a rough-running engine, checking each possible cause based on the mechanic's experience. mekanik dimulai dengan mendiagnosa kemungkinan penyebab suatu-menjalankan mesin kasar, memeriksa setiap penyebab yang mungkin didasarkan pada montir pengalaman. The mechanic may find one problem-a faulty spark plug. montir mungkin menemukan satu masalah-satu busi rusak. If this is the problem, changing the plug will result in a smooth-running engine. Jika ini masalahnya, mengubah pasang akan menghasilkan-menjalankan mesin halus. If not, then a problem still exists. Jika tidak, maka masalah masih ada. Only a road test will tell for sure. Hanya tes jalan akan memberi tahu dengan pasti. Finding a solution to the problem will be greatly aided by its proper identification. Mencari solusi untuk masalah ini akan sangat dibantu oleh identifikasi yang tepat. The consequences of not properly defining the problem are wasted time and energy. Konsekuensi dari tidak benar mendefinisikan masalah adalah membuang-buang waktu dan energi. This is also the possibility of hearing “What, that again! Ini juga kemungkinan mendengar "Apa, itu lagi! We just solved that problem last month, or at least we thought we did.” Kami hanya menyelesaikan masalah yang bulan lalu, atau setidaknya kita pikir kita lakukan. "
OLEH KRN
METODE ILMIAH
Alur berfikir yang tercakup dalam metode ilmiah dapat dijabarkan dalam beberapa langkah yang mencerminkan tahap-tahap dalam kegiatan ilmiah.Kerangka berfikir ilmiah yang berintikan proses logicohypothetico-verifikasi ini pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
1. Perumusan Masalah yang merupakan pertanyaan mengenai obyek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya.
2. Penyusunan Kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara beberapa faktor yang saling mengaitkan dan membentuk konslasi permasalahan.
3. Penyusunan Hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berfikir yang dikembangkan.
4. Pengujian Hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak.
5. Penarikan Kesimpulan yang merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan atau ditolak sementara.
Keseluruhan langkah ini harus ditempuh agar suatu penelaahan disebut ilmiah.Meskipun langkah-langkah ini secara konseptual tersusun dalam urutan teratur, dimana langkah yang satu merupakan landasan bagi langkah berikutnya, namun dalam praktiknya sering terjadi lompatan-lompatan.Hubungan antara langkah yang satu dengan langkah yang lainnya tidak terikat secara statis melainkan bersifat dinamis dengan proses pengkajian ilmiah yang tidak semata mengandalkan penalaran melainkan juga imajinasi dan kreativitas.Sering terjadi bahwa langkah yang satu bukan saja merupakan landasan bagi langkah yang berikutnya namun sekaligus juga merupakan landasan koreksi bagi langkah yang lain.Dengan jalan ini merupakan diprosesnya pengetahuan yang bersifat konsisten dengan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya serta teruji kebenarannya secara empiris.
Metode Ilmiah adalah penting bukan saja dalam proses penemuan pengetahuan namun lebih-lebih lagi dalam mengkomunikasikan penemuan ilmiah tersebut kepada masyarakat ilmuan. Sebuah laporan penelitian ilmiah mempunyai sistematika cara berfikir tertentu yang tercermin dalam format dan tekniknya.Perbedaan utama dari metode ilmiah dengan metode-metode pengetahuan lainnya menurut Jacob Bronowski adalah hakikat metode ilmiah yang bersifat sistematik dan eksplisit.
Sifat eksplisit ini memungkinkan terjadinya komunikasi yang intensif dalam kalangan masyarakat ilmuwan. Ilmu ditemukan secara individual namun dimanfaatkan secara sosial. Ilmu merupakan pengetahuan milik umum (public knowledge) dimana teori ilmiah yang ditemukan secara individual dikaji, diulangi dan dimanfaatkan secara komunal. Karakteristik ini mengharuskan seorang ilmuan untuk menguasai sarana komunikasi ilmiah dengan baik yang memungkinkan komunikasi eksplisit antar ilmuan secara intensif.Penemuan mesin cetak merupakan momentum yang sangat mendorong perkembangan ilmu.Ilmu maju dengan cepat pada masyarakat yang telah mempunyai tradisi komunikasi tertulis yang mantap.
Dapat disimpulkan bahwa ilmu merupakan kumpulan-kumpulan pengetahuan yang disusun secara konsisten dan kebenarannya telah teruji secara empiris.Dalam hal ini harus disadari bahwa proses pembuktian dalam ilmu tidaklah bersifat absolut.Ilmu tidak bertujuan untuk mencari kebenaran absolut melainkan kebenaran yang bermanfaat bagi manusia dalam tahap perkembangan tertentu.Hipotesis-hipotesis sampai saat ini tidak ditolak kebenarannya, dan mempunyai manfaat bagi kehidupan kita.Kita anggap sebagai pengetahuan yang shahih dalam keluarga keilmuan.Bahwa hipotesis itu kemudian hari ternyata tidak benar, bagi kita ha itu tidak terlalu penting sesama hipotesis itu mempunyai kegunaan.
Metode ilmiah ini adalah sama bagi semua disiplin keilmuan baik yang termasuk dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial.Jika ada perbedaan hanya terletak pada aspek-aspek tekniknya dan bukan pada struktur berfikir atau aspek metodologisnya.Misalnya teknik pengamatan bintang-bintang di langit akan berbeda dengan teknik pengamatan anak taman kanak-kanak yang sedang belajar mengeja.
Metode Ilmiah tidak dapat diterapkan kepada pengetahuan yang tidak termasuk ke dalam kelompok ilmu.Matematika dan bahasa tidak mempergunakan metode ilmiah dalam menyusun pengetahuannya, sebab matematika bukanlah ilmu tetapi pengetahuan yang merupakan saran berfiukir ilmiah.Demikian juga hanya dengan bidang sastra yang termasuk kepada humaniora yang jelas tidak mempergunakan metode ilmiah dalam penyusunan tubuh pengetahuannya.
Meskipun demikian beberapa aspek dari pengetahuan tersebut dapat menerapkan metode ilmiah dalam pengkajiannya.Misalnya aspek pengajaran bahasa, sastra dan matematika.Masalah tersebut dapat digolongkan ke dalam ilmu pendidikan yang mengkaji secara ilmiah beberapa aspek dari proses belajar mengajar.Dalam ilmu-ilmu sosial mengembangkan sendiri teknik-teknik dalam melakukan penelitian ilmiah.Teknik-teknik yang bersifat khusus ini biasanya dikembangkan untuk meneliti aspek tertentu yang bersifat eksploratoris yang bertujuan untuk menemukan pola atau struktur secara keseluruhan.Penelitian yang bersifat kualitatif biasanya diikuti oleh penelitian yang bersifat kuantitatif dengan penerapan metode ilmiah sepenuhnya.
Penelitian merupakan pencerminan secara konkret kegiatan ilmu dalam memproses pengetahuannya. Metodologi penelitian ilmiah dan hakikatnya merupakan operasionalisasi daripada metode keilmuan atau struktur berfikir yang melatarbelakangi langkah-langkah dalam penelitian ilmiah adalah metode keilmuan.Dengan demikian penguasaan metode ilmiah merupakan penguasaan metode ilmiah merupakan prasyarat untuk dapat memahami jalan pikiran yang terdapat dalam langkah-langkah penelitian.Bagi pendidikan keilmuan maka aspek-aspek filsafat ilmu sebaiknya langsung dikaitkankan dengan kegiatan berfikir ilmiah pada umumnya dan kegiatan penelitian pada khususnya.Langkah-langkah penelitian mencakup: Apa yang diteliti, bagaimana penelitian, untuk apa hasil penelitian digunakan adalah koheren dengan landasan ontologis, epistemologis, aksiologis.
Metode ilmiah merupakan paradigma maka ilmu dibandingkan dengan berbagai pengetahuan lainnya dapat dikatakan berkembang sangat cepat.Faktor yang mendorong perkembangan yakni faktor sosial dari komunikasi ilmiah dimana penemuan individu segera dapat diketahui dan dikaji oleh anggota masyarakat ilmuan lainnya.Tersedia alat komunikasi tertulis dalam bentuk majalah, buletin, jurnal, mikro film dan berbagai media lainnya.
Pada pertengahan abad ketujuhbelas komunikasi ilmiah antarilmuwan dilakukan secara korespodensi pribadi serta publikasi makalah atau pamflet sewaktu-waktu. Baru pada tahun 1654 the Royal Society didirikan di London yang disusul oleh academik Francaise yang didirikan di Paris pada tahun 1663.
Teori ilmiah masih merupakan penjelasan yang bersifat sebagian sesuai tahap perkembangan keilmuan yang masih sedang berjalan.Demikian juga dalam jalur perkembangan ini belum dapat dipastikan bahwa kebenaran yang sekarang diterima oleh kalangan ilmiah akan diterima pada masa yang akan datang.Betapa banyak kebenaran ilmiah dimasa lalu tidak dapat lagi diterima masa sekarang.Sifat Pragmatis dari ilmu inilah yang sebenarnya merupakan kelebihan dan kekurangan dari hakikat ilmu.Sikap pragmatis dari ilmu adalah cocok dengan perkembangan peradaban manusia dimana telah terbukti secara nyata peranan ilmu dalam membangun peradaban tersebut.
Ilmu memandang kebenaran sebagai tujuan yang mungkin dicapai namun tak sepenuhnya tangkapan kita itu sampai.Meskipun kita mempelajari metafisika sedalam-dalamnya namun kita tak pernah tahu hakikat realitas yang sesungguhnya.Kegiatan keilmuan pada jiwanya merupakan komitmen moral dan intelektual untuk mencoba mendekati kebenaran dengan cara sejujur-jujurnya.
Demikianlah kita telah melihat berbagai keterbatasan yang dipunyai ilmu walaupun terdapat kekurangan ini bukan menjadi alasan untuk menolak eksistensi ilmu dalam kehidupan kita.Sebab terlepas dari segala keterbatasan ilmu pengetahuan yang telah menunjukkan keampuhannya dalam membangun kemajuan peradaban seperti yang kita lihat sekarang ini. Kekurangan dan kelebihan ilmu harus digunakan sebagai pedoman untuk meletakkan ilmu dalam tempat yang sewajarnya, sebab hanya dengan sikap itulah kita dapat memanfaatkan kegunakan semaksimal mungkin bagi kemasyarahatan manusia.Mengatasi segalanya harus kita sadari bahwa ilmu hanyalah sekedar alat dan semuanya tergantung kepada kita apakah kita mempergunakan alat itu dengan baik atau tidak. Menolak ilmu dengan picik berarti kita menutup mata terhadap kemajuan masa kini, yang mana hampir semua aspek kehidupan modern dipengaruhi oleh produk ilmu dan teknologi.
DIBUAT OLEH KRN
1. Perumusan Masalah yang merupakan pertanyaan mengenai obyek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya.
2. Penyusunan Kerangka berfikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara beberapa faktor yang saling mengaitkan dan membentuk konslasi permasalahan.
3. Penyusunan Hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berfikir yang dikembangkan.
4. Pengujian Hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak.
5. Penarikan Kesimpulan yang merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan atau ditolak sementara.
Keseluruhan langkah ini harus ditempuh agar suatu penelaahan disebut ilmiah.Meskipun langkah-langkah ini secara konseptual tersusun dalam urutan teratur, dimana langkah yang satu merupakan landasan bagi langkah berikutnya, namun dalam praktiknya sering terjadi lompatan-lompatan.Hubungan antara langkah yang satu dengan langkah yang lainnya tidak terikat secara statis melainkan bersifat dinamis dengan proses pengkajian ilmiah yang tidak semata mengandalkan penalaran melainkan juga imajinasi dan kreativitas.Sering terjadi bahwa langkah yang satu bukan saja merupakan landasan bagi langkah yang berikutnya namun sekaligus juga merupakan landasan koreksi bagi langkah yang lain.Dengan jalan ini merupakan diprosesnya pengetahuan yang bersifat konsisten dengan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya serta teruji kebenarannya secara empiris.
Metode Ilmiah adalah penting bukan saja dalam proses penemuan pengetahuan namun lebih-lebih lagi dalam mengkomunikasikan penemuan ilmiah tersebut kepada masyarakat ilmuan. Sebuah laporan penelitian ilmiah mempunyai sistematika cara berfikir tertentu yang tercermin dalam format dan tekniknya.Perbedaan utama dari metode ilmiah dengan metode-metode pengetahuan lainnya menurut Jacob Bronowski adalah hakikat metode ilmiah yang bersifat sistematik dan eksplisit.
Sifat eksplisit ini memungkinkan terjadinya komunikasi yang intensif dalam kalangan masyarakat ilmuwan. Ilmu ditemukan secara individual namun dimanfaatkan secara sosial. Ilmu merupakan pengetahuan milik umum (public knowledge) dimana teori ilmiah yang ditemukan secara individual dikaji, diulangi dan dimanfaatkan secara komunal. Karakteristik ini mengharuskan seorang ilmuan untuk menguasai sarana komunikasi ilmiah dengan baik yang memungkinkan komunikasi eksplisit antar ilmuan secara intensif.Penemuan mesin cetak merupakan momentum yang sangat mendorong perkembangan ilmu.Ilmu maju dengan cepat pada masyarakat yang telah mempunyai tradisi komunikasi tertulis yang mantap.
Dapat disimpulkan bahwa ilmu merupakan kumpulan-kumpulan pengetahuan yang disusun secara konsisten dan kebenarannya telah teruji secara empiris.Dalam hal ini harus disadari bahwa proses pembuktian dalam ilmu tidaklah bersifat absolut.Ilmu tidak bertujuan untuk mencari kebenaran absolut melainkan kebenaran yang bermanfaat bagi manusia dalam tahap perkembangan tertentu.Hipotesis-hipotesis sampai saat ini tidak ditolak kebenarannya, dan mempunyai manfaat bagi kehidupan kita.Kita anggap sebagai pengetahuan yang shahih dalam keluarga keilmuan.Bahwa hipotesis itu kemudian hari ternyata tidak benar, bagi kita ha itu tidak terlalu penting sesama hipotesis itu mempunyai kegunaan.
Metode ilmiah ini adalah sama bagi semua disiplin keilmuan baik yang termasuk dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial.Jika ada perbedaan hanya terletak pada aspek-aspek tekniknya dan bukan pada struktur berfikir atau aspek metodologisnya.Misalnya teknik pengamatan bintang-bintang di langit akan berbeda dengan teknik pengamatan anak taman kanak-kanak yang sedang belajar mengeja.
Metode Ilmiah tidak dapat diterapkan kepada pengetahuan yang tidak termasuk ke dalam kelompok ilmu.Matematika dan bahasa tidak mempergunakan metode ilmiah dalam menyusun pengetahuannya, sebab matematika bukanlah ilmu tetapi pengetahuan yang merupakan saran berfiukir ilmiah.Demikian juga hanya dengan bidang sastra yang termasuk kepada humaniora yang jelas tidak mempergunakan metode ilmiah dalam penyusunan tubuh pengetahuannya.
Meskipun demikian beberapa aspek dari pengetahuan tersebut dapat menerapkan metode ilmiah dalam pengkajiannya.Misalnya aspek pengajaran bahasa, sastra dan matematika.Masalah tersebut dapat digolongkan ke dalam ilmu pendidikan yang mengkaji secara ilmiah beberapa aspek dari proses belajar mengajar.Dalam ilmu-ilmu sosial mengembangkan sendiri teknik-teknik dalam melakukan penelitian ilmiah.Teknik-teknik yang bersifat khusus ini biasanya dikembangkan untuk meneliti aspek tertentu yang bersifat eksploratoris yang bertujuan untuk menemukan pola atau struktur secara keseluruhan.Penelitian yang bersifat kualitatif biasanya diikuti oleh penelitian yang bersifat kuantitatif dengan penerapan metode ilmiah sepenuhnya.
Penelitian merupakan pencerminan secara konkret kegiatan ilmu dalam memproses pengetahuannya. Metodologi penelitian ilmiah dan hakikatnya merupakan operasionalisasi daripada metode keilmuan atau struktur berfikir yang melatarbelakangi langkah-langkah dalam penelitian ilmiah adalah metode keilmuan.Dengan demikian penguasaan metode ilmiah merupakan penguasaan metode ilmiah merupakan prasyarat untuk dapat memahami jalan pikiran yang terdapat dalam langkah-langkah penelitian.Bagi pendidikan keilmuan maka aspek-aspek filsafat ilmu sebaiknya langsung dikaitkankan dengan kegiatan berfikir ilmiah pada umumnya dan kegiatan penelitian pada khususnya.Langkah-langkah penelitian mencakup: Apa yang diteliti, bagaimana penelitian, untuk apa hasil penelitian digunakan adalah koheren dengan landasan ontologis, epistemologis, aksiologis.
Metode ilmiah merupakan paradigma maka ilmu dibandingkan dengan berbagai pengetahuan lainnya dapat dikatakan berkembang sangat cepat.Faktor yang mendorong perkembangan yakni faktor sosial dari komunikasi ilmiah dimana penemuan individu segera dapat diketahui dan dikaji oleh anggota masyarakat ilmuan lainnya.Tersedia alat komunikasi tertulis dalam bentuk majalah, buletin, jurnal, mikro film dan berbagai media lainnya.
Pada pertengahan abad ketujuhbelas komunikasi ilmiah antarilmuwan dilakukan secara korespodensi pribadi serta publikasi makalah atau pamflet sewaktu-waktu. Baru pada tahun 1654 the Royal Society didirikan di London yang disusul oleh academik Francaise yang didirikan di Paris pada tahun 1663.
Teori ilmiah masih merupakan penjelasan yang bersifat sebagian sesuai tahap perkembangan keilmuan yang masih sedang berjalan.Demikian juga dalam jalur perkembangan ini belum dapat dipastikan bahwa kebenaran yang sekarang diterima oleh kalangan ilmiah akan diterima pada masa yang akan datang.Betapa banyak kebenaran ilmiah dimasa lalu tidak dapat lagi diterima masa sekarang.Sifat Pragmatis dari ilmu inilah yang sebenarnya merupakan kelebihan dan kekurangan dari hakikat ilmu.Sikap pragmatis dari ilmu adalah cocok dengan perkembangan peradaban manusia dimana telah terbukti secara nyata peranan ilmu dalam membangun peradaban tersebut.
Ilmu memandang kebenaran sebagai tujuan yang mungkin dicapai namun tak sepenuhnya tangkapan kita itu sampai.Meskipun kita mempelajari metafisika sedalam-dalamnya namun kita tak pernah tahu hakikat realitas yang sesungguhnya.Kegiatan keilmuan pada jiwanya merupakan komitmen moral dan intelektual untuk mencoba mendekati kebenaran dengan cara sejujur-jujurnya.
Demikianlah kita telah melihat berbagai keterbatasan yang dipunyai ilmu walaupun terdapat kekurangan ini bukan menjadi alasan untuk menolak eksistensi ilmu dalam kehidupan kita.Sebab terlepas dari segala keterbatasan ilmu pengetahuan yang telah menunjukkan keampuhannya dalam membangun kemajuan peradaban seperti yang kita lihat sekarang ini. Kekurangan dan kelebihan ilmu harus digunakan sebagai pedoman untuk meletakkan ilmu dalam tempat yang sewajarnya, sebab hanya dengan sikap itulah kita dapat memanfaatkan kegunakan semaksimal mungkin bagi kemasyarahatan manusia.Mengatasi segalanya harus kita sadari bahwa ilmu hanyalah sekedar alat dan semuanya tergantung kepada kita apakah kita mempergunakan alat itu dengan baik atau tidak. Menolak ilmu dengan picik berarti kita menutup mata terhadap kemajuan masa kini, yang mana hampir semua aspek kehidupan modern dipengaruhi oleh produk ilmu dan teknologi.
DIBUAT OLEH KRN
ONTOLOGI
Istilah ontologi berasal dari kata Yunani Onta yang berarti sesuatu yang sungguh-sungguh ada, kenyataan yang sesungguhnya, dan logos yang berarti teori atau ilmu. Ontologi mempelajari keberadaan dalam bentuknya yang paling abstrak.Ontologi merupakan cabang filsafat yang membicarakan tatanan dan struktur kenyataan dalam arti yang luas.
Secara Ontologi ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuaannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia.Objek penelaahan berada dalam batas pra-pengalaman dan pasca pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain.
B. Metafisika
a. Pengertian Metafisika
Dalam buku Filsafat Ilmu dan perkembangannya di Indonesia karangan Drs.Surajio memberikan definisi Metafisika adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada.Metafisika membicarakan sesuatu di sebalik yang tampak.Dengan belajar metafisika orang akan mengenal akan Tuhannya dan mengetahui berbagai macam aliran yang ada dalam metafisika.Persoalan-persoalan metafis dibedakan menjadi tiga ,yaitu persoalan ontologi, persolan kosmologi, persoalan antropologi.Persoalan Ontologi diantaranya adalah apa yang dimaksud dengan ada, keberadaan, atau eksistensi itu? Bagaimanakah penggolongan dari ada, keberadaan dan eksistensinya? Apa dasar kenyataan atau keberadaan? Persoalan kosmologi bertalian dengan asal mula, perkembangan dan struktur atau susunan alam, misalnya jenis keteraturan apa yang ada dalam alam? Apa hakikat hubungan sebab akibat? Apakah ruang dan waktu itu? Persoalan antropologi (manusia) seperti bagaimana terjadi hubungan badan dan jiwa? apa yang dimaksud dengan kesadaran? Manusia sebagai makhluk bebas atau tidak bebas?
Tafsiran yang pertama diberikan oleh manusia tentang alam ini yakni terdapat ujud-ujud yang bersifat ghaib (supernatural) dan ujud-ujud bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata.Animisme merupakan kepercayaan yang berdasarkan pemikiran supernaturalisme ini; dimana manusia percaya bahwa terdapat roh-roh yang bersifat ghaib yang terdapat dalam benda-benda seperti batu, pohon, dan air terjun.Animisme merupakan kepercayaan yang paling tua umurnya dalam sejarah perkembangan kebudayaan manusia dan dipeluk oleh beberapa masyarakat dimuka bumi.
Sebagai lawan dari supernaturalisme maka terdapat paham naturalisme yang menolak ujud-ujud yang bersifat supernatural.Materialisme merupakan faham berdasarkan naturalisme berpendapat bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang bersifat ghaib melainkan kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri yang dapat dipelajari dan diketahui.
Prinsip-prinsip materalisme ini dikembangkan oleh Democritos (460-370 SM).Dia mengembangkan teori tentang atom yang dipelajari dari gurunya Leucippus. Bagi Democritos, unsur dasar dari alam ini adalah atom.
Gejala alam dapat didekati dari segi proses kimia fisika.Hal ini tidak terlalu menimbulkan permasalahan selama diterapkan kepada zat-zat yang mati seperti batuan atau karet besi. Namun bagaimana dengan makhluk hidup termasuk manusia.Kaum yang menganut faham mekanistik ditentang oleh kaum vitalistik.
Kaum mekanistik melihat gejala alam (termasuk makhluk hidup) hanya merupakan gejala kimia fisika semata.Sedangkan bagi kaum vitalistik hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substantif dengan proses tersebut di atas.
Secara fisiologis otak manusia terdiri dari 10 – 15 billiun neuron.Neuron adalah sel saraf yang merupakan dasar dari keseluruhan sistem saraf.Sudah merupakan kenyataan bahwa proses berfikir manusia menghasilkan pengetahuan yang berupa zat (objek) yang ditelaahnya.Namun apakah merupakan kebenarannya dari hakikat pikiran tersebut.Apakah dia berbeda dengan zat yang ditelaahnya atau hanya bentuk lain dari zat tersebut?
Aliran monistik mempunyai pendapat yang tidak membedakan antara fikiran dan zat, mereka hanya berbeda daam gejala disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai substansi yang sama.Sehingga proses berfikir merupakan aktivitas elektrokimia dari otak.Jadi yang membedakan robot dan manusia bagi yang menganut faham monistik hanya terletak pada komponen dan struktur yang membangunnya dan sama sekali bukan terletak pada substansinya yang pada hakikatnya berbeda secara nyata.
Pendapat ini ditolak oleh kaum yang menganut faham dualistik.Termininologi dualisme ini mula-mula dipakai oleh Thomas Hyde (1700) Sedangkan monisme oleh Christian Wolff (1679-1754). Dalam metafisika dalam penafsirkan dualistik membedakan antara zat dan kesadaran (pikiran) yang bagi mereka berbeda sui generis.Secara substantif filsuf yang menganut faham dualistik ini diantaranya Rene Descartes (1596-1650), John Locke (1632-1714), George Berkeley (1685-1753).
Ketiga ahli filsuf ini berpendapat bahwa yang ditanggap oleh fikiran termasuk perinderaan dari seluruh pengalaman manusia adalah bersifat mental.Bagi Descartes yang bersifat nyata adalah fikiran sebab dengan berfikirlah maka sesuatu itu lantas ada.
Cagito ergo sum! (Saya berpikir maka saya ada). Descartes mulai menyusun filsafatnya secara deduktif berdasarkan pernyataan yang baginya merupakan kebenaran yang tidak diragukan lagi.Locke sendiri menganggap bahwa pikiran manusia pada mulanya dapat diibaratkan sebuah lempeng lilin yang licin (tabula rasa) dimana pengalaman indera melekat pada lempeng tersebut.Makin lama makin banyak pengalaman indera yang terkumpul dan kombinasi dari pengalaman-pengalaman indera ini seterusnya membuahkan ide yang kian lama kian rumit.Dengan demikian pikiran dapat diibaratkan sebagai organ yang menangkap dan menyimpan pengalaman indera.
Ada dikatakan oleh Nicolai Hartman :”Metafisika dianggap orang:
1. Sebagai daerah tempat yang khusus teruntuk bagi obyek-obyek transenden; adapun Kant menganggapnya sebagai daerah spekulatif bagi tanggapan-tanggapan berikut: Tuhan, Kebebasan, Jiwa. Dalam pengertian itu ia tiada berkuasa lagi, setidak-tidaknya sebagai cabang filsafat.
2. Metafisika dapat diartikan sebagai pangkalan bagi sistem-sistem spekulatif, teori-teori dan tanggapan dunia. Dalam pengertian itu ia merupakan pergolakan penyelesaian-penyelesaian masalah yang saling membantah; lagi pula masalah-masalah itu kembali juga tiada hentinya, jadinya akhirnya tetap tidak diselesaikan, sedangkan dugaan-dugaan spekulatif ganti-berganti dengan sebebas-bebasnya.
3. Tak lain tak bukan hanya sebagai metafisika masalah-masalah dan sebagai pekerjaan terus-menerus untuk menyelesaikannya.Kemajuan ilmu pengetahuan yang semakin lama semakin pesat, sebab masalah-masalah hanya mengganti kulitnya saja tetapi isinya tetap.
C. Asumsi
Paham determinisme dikembangkan oleh William Hamilton 1788-1856) dari doktrin Thomas Hobbes (1588-1679) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah bersifat empiris yang dicerminkan oleh zat dan gerak yang bersifat universal .Aliran Filsafat ini merupakan lawan dari fatalisme yang berpendapat bahwa segala kejadian ditentukan oleh nasib yang telah ditetapkan lebih dahulu.Demikian juga paham deteminisme ini bertentangan dengan penganut pilihan bebas yang menyatakan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan pilihannya tidak terikat kepada hukum alam yang tidak memberikan alternatif.
Untuk meletakkan ilmu dalam perspektif filsafat ini marilah kita bertanya pada diri sendiri apakah sebenarnya yang ingin dipelajari dengan adanya ilmu.Konsekuensi dari pilihan ini adalah jelas, sebab sekiranya kita memilih hukum kejadian yang berlaku bagi seluruh manusia maka kita harus bertolak dari paham deteminisme.
Sifat universal yang disyaratkan oleh ilmu, bagaimana kita akan mampu memenuhinya, disebabkan kemampuan manusia yang tidak mungkin memenuhi semua kejadian misalnya kita menyimpulkan matahari terbit dari barat dan tenggelam dari timur, beranikan kita menjamin pada suatu saat jadi terbalik lalu kesimpulan itu tidak berlaku.
D. Peluang
Perlu kita sadari bahwa ilmu tidak pernah ingin dan tidak pernah berpretensi untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat mutlak. Dalam soal pretensi ilmu kalah dengan pengetahuan perdukunan).Saudara pasti sembuh dengan minum air ini, jadi tidak ada keraguan sedikitpun.Ilmu memberikan dasar saudara untuk mengambil keputusan, dimana keputusan saudara harus didasarkan kepada penafsiran kesimpulan ilmiah yang bersifat relatif.Dengan demikian maka kata akhir suatu keputusan terletak ditangan saudara dan bukan pada teori-teori keilmuan.
E. Beberapa Asumsi dalam Ilmu
Kehidupan penuh dengan 1001 teka-teki dan sejuta rahasia.Pandangan ini berubah setelah kita berangkat dewasa, dunia tidak sebesar yang kita kira, ujud yang penuh dengan misteri ternyata begitu saja.Kemestaanpun menciut, bahkan dunia bisa selebar daun kelor bagi orang yang putus asa.
Katakanlah kita sedang mempelajari ilmu ukur bidang datar, tarik garis ke sana, bat garis ke sini terus hitung berapa besar sudut yang menyilang hitung berapa garis yang berhadapan.Analisis ini bagaikan kita membuat konstruksi kayu pada rumah kita.Sekarang dalam bidang datar yang sama pada amuba berbeda dengan kita.Bagi amuba bidang datar itu tidak lurus.Jarak terdekat bukan lagi garis lurus tetapi garis lengkungan.Jadi secara mutlak sebenarnya tidak ada yang tahu bagaimana bidang datar itu.
Dalam analisis secara mekanistik maka terdapat empat komponen analisis utama yakni zat, gerak,ruang dan waktu.Newton dalam bukunya Philoshopie Naturalis Principia Mathematica (1686) berasumsi bahwa keempat komponen ini absolut.Zat bersifat absolut dan berbeda secara substabtif dengan energi.Einsten berlainan dengan Newton dalam the special Theory of Relativity (1905) berasumsi bahwa keempat komponen itu bersifat relatif.Tidak mungkin kita mengukur gerak secara absolut.Bahwa zat sendiri itu tidak mutlak, hanya bentuk lain dari energi, dengan rumus termasyhur: E = mc2.
Dalam mengembangkan asumsi perlu dipertimbangkan beberapa hal:
Pertama, Asumsi ini harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan.Asumsi ini harus operasional dan merupakan dasar dari pengkajian teoritis.
Kedua, Asumsi ini harus disimpulkan dari keadaan sebagaimana adanya, bukan bagaimana keadaan seharusnya.Asumsi yang pertama adalah asumsi yang mendasari telaahan ilmiah.Sedangkan asumsi kedua adalah asumsi yang mendasari telaahan moral.
F. Batasan-Batasan Penjelajahan Ilmu
Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris.Kata Einsten: Ilmu tanpa (bimbingan moral) agama adalah buta.Kebutaan moral dari ilmu mungkin membawa kemanusiaan ke jurang malapetaka.
Ruang penjelajahan keilmuan dari ilmu menjadi kapling-kapling disiplin keilmuan.Kapling ini makin lama makin sempit sesuai perkembangan kuantitatif disiplin keilmuan.Kalau pada mulanya terdapat ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial maka dewasa ini terdapat lebih dari 650 cabang keilmuan.
Cabang-cabang ilmu
Pada dasarnya cabang-cabang ilmu berkembang dari dua cabang yakni filsafat alam menjadi ilmu-ilmu alam dan filsafat moral menjadi ilmu-ilmu sosial.Ilmu alam terbagi dua yakni Ilmu alam dan ilmu hayat.
G. Hakekat pengajaran bahasa Inggris
Dapatkah anda bayangkan seandainya binatang dapat berbicara seperti manusia? Dengan menguasai bahasa berarti seseorang dapat mengetahui pengetahuan.Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuan berbahasanya.Dalam hal ini maka Eanst Cassier menyebut manusia sebagai Animal Symbolicum, makhluk yang mempergunakan simbol, yang secara generik mempunyai cakupan yang lebih luas dari pada Homo Sapiens yakni makhluk yang berfikir, sebab dalam kegiatan berfikir manusia mempergunakan symbol.Tanpa mempunyai kemampuan berbahasa ini maka manusia tak mungkin mengembangkan kebudayaannya, sebab tanpa mempunyai bahasa maka hilang pulalah kemampuan untuk meneruskan nilai-nilai budaya dari generasi satu ke generasi lainnya.
Di era globalisasi pengajaran bahasa mempunyai arti yang sangat penting, terutama pengajaran bahasa Inggris.Mengingat bahasa Inggris cenderung menjadi motor penggerak Ilmu pengetahuan dan teknologi, tantangan itu perlu dijawab oleh para pengajar bahasa Inggris dengan memperbaharui dan memperluas wawasan dalam bidang didaktik dan metodik.Agar masalah yang selama ini terjadi pada siswa yakni anggapan bahwa bahasa Inggris hanya sebagai beban dan pelajaran yang ditakuti serta membosankan dapat di atasi.Masalah yang sering juga terjadi pada siswa yakni rasa takut untuk membuat kesalahan, sehingga menimbulkan rasa takut untuk berbicara dan mengemukakan pendapatnya dalam bahasa Inggris yang mereka pelajari.Sehingga guru harus menggunakan metode yang bervariasi agar segala permasalahan siswa dapat teratasi.
Ada beberapa hal yang dapat menunjang keberhasilan proses-belajar mengajar yakni:
a. Guru harus berperan sebagai sutradara.Dalam hal ini guru dalam membuat perencanaan dengan sebaik-baiknya agar tercapai tujuan yang diharapkan.
b. Guru harus mempunyai pergantian fase dalam KBM. Dalam hal ini guru diharapkan dapat berhenti sejenak.Hal ini perlu dilakukan karena kemampuan manusia untuk berkonsentrasi secara penuh hanya sekitar kurang lebih sepuluh menit.
c. Guru menerangkan hanya hal-hal penting yang perlu untuk diterangkan.Guru memberi kesempatan untuk siswa berbicara.Hanya hal-hal yang mutlak saja yang harus diterangkan.
d. Guru seharusnya mentolerir kesalahan.Mentolerir kesalahan bukan membiarkan kesalahan yang dibuat oleh siswa melainkan membicarakan dan mengoreksi sesuai dengan tujuan pembelajaran.
e. Guru dan siswa diharapkan berusaha menggunakan bahasa Inggris dalam proses belajar mengajar.
f. Motivasi merupakan salah satu faktor penunjang dalam KBM.
g. Guru sebaiknya tidak meremehkan pengetahuan umum dan pengetahuan yang sudah dikuasai sebelumnya.
h. Guru dapat menyampaikan tujuan dari pembelajaran.Agar tercipta semangat belajar yang selaras dan seimbang.
BAB III
Penutup
Ontologi mempelajari keberadaan dalam bentuknya yang paling abstrak.Ontologi merupakan cabang filsafat yang membicarakan tatanan dan struktur kenyataan dalam arti yang luas.
Secara Ontologi ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuaannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia.Objek penelaahan berada dalam batas pra-pengalaman dan pasca pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain.
Dibuat oleh Krn
Secara Ontologi ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuaannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia.Objek penelaahan berada dalam batas pra-pengalaman dan pasca pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain.
B. Metafisika
a. Pengertian Metafisika
Dalam buku Filsafat Ilmu dan perkembangannya di Indonesia karangan Drs.Surajio memberikan definisi Metafisika adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada.Metafisika membicarakan sesuatu di sebalik yang tampak.Dengan belajar metafisika orang akan mengenal akan Tuhannya dan mengetahui berbagai macam aliran yang ada dalam metafisika.Persoalan-persoalan metafis dibedakan menjadi tiga ,yaitu persoalan ontologi, persolan kosmologi, persoalan antropologi.Persoalan Ontologi diantaranya adalah apa yang dimaksud dengan ada, keberadaan, atau eksistensi itu? Bagaimanakah penggolongan dari ada, keberadaan dan eksistensinya? Apa dasar kenyataan atau keberadaan? Persoalan kosmologi bertalian dengan asal mula, perkembangan dan struktur atau susunan alam, misalnya jenis keteraturan apa yang ada dalam alam? Apa hakikat hubungan sebab akibat? Apakah ruang dan waktu itu? Persoalan antropologi (manusia) seperti bagaimana terjadi hubungan badan dan jiwa? apa yang dimaksud dengan kesadaran? Manusia sebagai makhluk bebas atau tidak bebas?
Tafsiran yang pertama diberikan oleh manusia tentang alam ini yakni terdapat ujud-ujud yang bersifat ghaib (supernatural) dan ujud-ujud bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata.Animisme merupakan kepercayaan yang berdasarkan pemikiran supernaturalisme ini; dimana manusia percaya bahwa terdapat roh-roh yang bersifat ghaib yang terdapat dalam benda-benda seperti batu, pohon, dan air terjun.Animisme merupakan kepercayaan yang paling tua umurnya dalam sejarah perkembangan kebudayaan manusia dan dipeluk oleh beberapa masyarakat dimuka bumi.
Sebagai lawan dari supernaturalisme maka terdapat paham naturalisme yang menolak ujud-ujud yang bersifat supernatural.Materialisme merupakan faham berdasarkan naturalisme berpendapat bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang bersifat ghaib melainkan kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri yang dapat dipelajari dan diketahui.
Prinsip-prinsip materalisme ini dikembangkan oleh Democritos (460-370 SM).Dia mengembangkan teori tentang atom yang dipelajari dari gurunya Leucippus. Bagi Democritos, unsur dasar dari alam ini adalah atom.
Gejala alam dapat didekati dari segi proses kimia fisika.Hal ini tidak terlalu menimbulkan permasalahan selama diterapkan kepada zat-zat yang mati seperti batuan atau karet besi. Namun bagaimana dengan makhluk hidup termasuk manusia.Kaum yang menganut faham mekanistik ditentang oleh kaum vitalistik.
Kaum mekanistik melihat gejala alam (termasuk makhluk hidup) hanya merupakan gejala kimia fisika semata.Sedangkan bagi kaum vitalistik hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substantif dengan proses tersebut di atas.
Secara fisiologis otak manusia terdiri dari 10 – 15 billiun neuron.Neuron adalah sel saraf yang merupakan dasar dari keseluruhan sistem saraf.Sudah merupakan kenyataan bahwa proses berfikir manusia menghasilkan pengetahuan yang berupa zat (objek) yang ditelaahnya.Namun apakah merupakan kebenarannya dari hakikat pikiran tersebut.Apakah dia berbeda dengan zat yang ditelaahnya atau hanya bentuk lain dari zat tersebut?
Aliran monistik mempunyai pendapat yang tidak membedakan antara fikiran dan zat, mereka hanya berbeda daam gejala disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai substansi yang sama.Sehingga proses berfikir merupakan aktivitas elektrokimia dari otak.Jadi yang membedakan robot dan manusia bagi yang menganut faham monistik hanya terletak pada komponen dan struktur yang membangunnya dan sama sekali bukan terletak pada substansinya yang pada hakikatnya berbeda secara nyata.
Pendapat ini ditolak oleh kaum yang menganut faham dualistik.Termininologi dualisme ini mula-mula dipakai oleh Thomas Hyde (1700) Sedangkan monisme oleh Christian Wolff (1679-1754). Dalam metafisika dalam penafsirkan dualistik membedakan antara zat dan kesadaran (pikiran) yang bagi mereka berbeda sui generis.Secara substantif filsuf yang menganut faham dualistik ini diantaranya Rene Descartes (1596-1650), John Locke (1632-1714), George Berkeley (1685-1753).
Ketiga ahli filsuf ini berpendapat bahwa yang ditanggap oleh fikiran termasuk perinderaan dari seluruh pengalaman manusia adalah bersifat mental.Bagi Descartes yang bersifat nyata adalah fikiran sebab dengan berfikirlah maka sesuatu itu lantas ada.
Cagito ergo sum! (Saya berpikir maka saya ada). Descartes mulai menyusun filsafatnya secara deduktif berdasarkan pernyataan yang baginya merupakan kebenaran yang tidak diragukan lagi.Locke sendiri menganggap bahwa pikiran manusia pada mulanya dapat diibaratkan sebuah lempeng lilin yang licin (tabula rasa) dimana pengalaman indera melekat pada lempeng tersebut.Makin lama makin banyak pengalaman indera yang terkumpul dan kombinasi dari pengalaman-pengalaman indera ini seterusnya membuahkan ide yang kian lama kian rumit.Dengan demikian pikiran dapat diibaratkan sebagai organ yang menangkap dan menyimpan pengalaman indera.
Ada dikatakan oleh Nicolai Hartman :”Metafisika dianggap orang:
1. Sebagai daerah tempat yang khusus teruntuk bagi obyek-obyek transenden; adapun Kant menganggapnya sebagai daerah spekulatif bagi tanggapan-tanggapan berikut: Tuhan, Kebebasan, Jiwa. Dalam pengertian itu ia tiada berkuasa lagi, setidak-tidaknya sebagai cabang filsafat.
2. Metafisika dapat diartikan sebagai pangkalan bagi sistem-sistem spekulatif, teori-teori dan tanggapan dunia. Dalam pengertian itu ia merupakan pergolakan penyelesaian-penyelesaian masalah yang saling membantah; lagi pula masalah-masalah itu kembali juga tiada hentinya, jadinya akhirnya tetap tidak diselesaikan, sedangkan dugaan-dugaan spekulatif ganti-berganti dengan sebebas-bebasnya.
3. Tak lain tak bukan hanya sebagai metafisika masalah-masalah dan sebagai pekerjaan terus-menerus untuk menyelesaikannya.Kemajuan ilmu pengetahuan yang semakin lama semakin pesat, sebab masalah-masalah hanya mengganti kulitnya saja tetapi isinya tetap.
C. Asumsi
Paham determinisme dikembangkan oleh William Hamilton 1788-1856) dari doktrin Thomas Hobbes (1588-1679) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah bersifat empiris yang dicerminkan oleh zat dan gerak yang bersifat universal .Aliran Filsafat ini merupakan lawan dari fatalisme yang berpendapat bahwa segala kejadian ditentukan oleh nasib yang telah ditetapkan lebih dahulu.Demikian juga paham deteminisme ini bertentangan dengan penganut pilihan bebas yang menyatakan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan pilihannya tidak terikat kepada hukum alam yang tidak memberikan alternatif.
Untuk meletakkan ilmu dalam perspektif filsafat ini marilah kita bertanya pada diri sendiri apakah sebenarnya yang ingin dipelajari dengan adanya ilmu.Konsekuensi dari pilihan ini adalah jelas, sebab sekiranya kita memilih hukum kejadian yang berlaku bagi seluruh manusia maka kita harus bertolak dari paham deteminisme.
Sifat universal yang disyaratkan oleh ilmu, bagaimana kita akan mampu memenuhinya, disebabkan kemampuan manusia yang tidak mungkin memenuhi semua kejadian misalnya kita menyimpulkan matahari terbit dari barat dan tenggelam dari timur, beranikan kita menjamin pada suatu saat jadi terbalik lalu kesimpulan itu tidak berlaku.
D. Peluang
Perlu kita sadari bahwa ilmu tidak pernah ingin dan tidak pernah berpretensi untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat mutlak. Dalam soal pretensi ilmu kalah dengan pengetahuan perdukunan).Saudara pasti sembuh dengan minum air ini, jadi tidak ada keraguan sedikitpun.Ilmu memberikan dasar saudara untuk mengambil keputusan, dimana keputusan saudara harus didasarkan kepada penafsiran kesimpulan ilmiah yang bersifat relatif.Dengan demikian maka kata akhir suatu keputusan terletak ditangan saudara dan bukan pada teori-teori keilmuan.
E. Beberapa Asumsi dalam Ilmu
Kehidupan penuh dengan 1001 teka-teki dan sejuta rahasia.Pandangan ini berubah setelah kita berangkat dewasa, dunia tidak sebesar yang kita kira, ujud yang penuh dengan misteri ternyata begitu saja.Kemestaanpun menciut, bahkan dunia bisa selebar daun kelor bagi orang yang putus asa.
Katakanlah kita sedang mempelajari ilmu ukur bidang datar, tarik garis ke sana, bat garis ke sini terus hitung berapa besar sudut yang menyilang hitung berapa garis yang berhadapan.Analisis ini bagaikan kita membuat konstruksi kayu pada rumah kita.Sekarang dalam bidang datar yang sama pada amuba berbeda dengan kita.Bagi amuba bidang datar itu tidak lurus.Jarak terdekat bukan lagi garis lurus tetapi garis lengkungan.Jadi secara mutlak sebenarnya tidak ada yang tahu bagaimana bidang datar itu.
Dalam analisis secara mekanistik maka terdapat empat komponen analisis utama yakni zat, gerak,ruang dan waktu.Newton dalam bukunya Philoshopie Naturalis Principia Mathematica (1686) berasumsi bahwa keempat komponen ini absolut.Zat bersifat absolut dan berbeda secara substabtif dengan energi.Einsten berlainan dengan Newton dalam the special Theory of Relativity (1905) berasumsi bahwa keempat komponen itu bersifat relatif.Tidak mungkin kita mengukur gerak secara absolut.Bahwa zat sendiri itu tidak mutlak, hanya bentuk lain dari energi, dengan rumus termasyhur: E = mc2.
Dalam mengembangkan asumsi perlu dipertimbangkan beberapa hal:
Pertama, Asumsi ini harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan.Asumsi ini harus operasional dan merupakan dasar dari pengkajian teoritis.
Kedua, Asumsi ini harus disimpulkan dari keadaan sebagaimana adanya, bukan bagaimana keadaan seharusnya.Asumsi yang pertama adalah asumsi yang mendasari telaahan ilmiah.Sedangkan asumsi kedua adalah asumsi yang mendasari telaahan moral.
F. Batasan-Batasan Penjelajahan Ilmu
Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris.Kata Einsten: Ilmu tanpa (bimbingan moral) agama adalah buta.Kebutaan moral dari ilmu mungkin membawa kemanusiaan ke jurang malapetaka.
Ruang penjelajahan keilmuan dari ilmu menjadi kapling-kapling disiplin keilmuan.Kapling ini makin lama makin sempit sesuai perkembangan kuantitatif disiplin keilmuan.Kalau pada mulanya terdapat ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial maka dewasa ini terdapat lebih dari 650 cabang keilmuan.
Cabang-cabang ilmu
Pada dasarnya cabang-cabang ilmu berkembang dari dua cabang yakni filsafat alam menjadi ilmu-ilmu alam dan filsafat moral menjadi ilmu-ilmu sosial.Ilmu alam terbagi dua yakni Ilmu alam dan ilmu hayat.
G. Hakekat pengajaran bahasa Inggris
Dapatkah anda bayangkan seandainya binatang dapat berbicara seperti manusia? Dengan menguasai bahasa berarti seseorang dapat mengetahui pengetahuan.Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuan berbahasanya.Dalam hal ini maka Eanst Cassier menyebut manusia sebagai Animal Symbolicum, makhluk yang mempergunakan simbol, yang secara generik mempunyai cakupan yang lebih luas dari pada Homo Sapiens yakni makhluk yang berfikir, sebab dalam kegiatan berfikir manusia mempergunakan symbol.Tanpa mempunyai kemampuan berbahasa ini maka manusia tak mungkin mengembangkan kebudayaannya, sebab tanpa mempunyai bahasa maka hilang pulalah kemampuan untuk meneruskan nilai-nilai budaya dari generasi satu ke generasi lainnya.
Di era globalisasi pengajaran bahasa mempunyai arti yang sangat penting, terutama pengajaran bahasa Inggris.Mengingat bahasa Inggris cenderung menjadi motor penggerak Ilmu pengetahuan dan teknologi, tantangan itu perlu dijawab oleh para pengajar bahasa Inggris dengan memperbaharui dan memperluas wawasan dalam bidang didaktik dan metodik.Agar masalah yang selama ini terjadi pada siswa yakni anggapan bahwa bahasa Inggris hanya sebagai beban dan pelajaran yang ditakuti serta membosankan dapat di atasi.Masalah yang sering juga terjadi pada siswa yakni rasa takut untuk membuat kesalahan, sehingga menimbulkan rasa takut untuk berbicara dan mengemukakan pendapatnya dalam bahasa Inggris yang mereka pelajari.Sehingga guru harus menggunakan metode yang bervariasi agar segala permasalahan siswa dapat teratasi.
Ada beberapa hal yang dapat menunjang keberhasilan proses-belajar mengajar yakni:
a. Guru harus berperan sebagai sutradara.Dalam hal ini guru dalam membuat perencanaan dengan sebaik-baiknya agar tercapai tujuan yang diharapkan.
b. Guru harus mempunyai pergantian fase dalam KBM. Dalam hal ini guru diharapkan dapat berhenti sejenak.Hal ini perlu dilakukan karena kemampuan manusia untuk berkonsentrasi secara penuh hanya sekitar kurang lebih sepuluh menit.
c. Guru menerangkan hanya hal-hal penting yang perlu untuk diterangkan.Guru memberi kesempatan untuk siswa berbicara.Hanya hal-hal yang mutlak saja yang harus diterangkan.
d. Guru seharusnya mentolerir kesalahan.Mentolerir kesalahan bukan membiarkan kesalahan yang dibuat oleh siswa melainkan membicarakan dan mengoreksi sesuai dengan tujuan pembelajaran.
e. Guru dan siswa diharapkan berusaha menggunakan bahasa Inggris dalam proses belajar mengajar.
f. Motivasi merupakan salah satu faktor penunjang dalam KBM.
g. Guru sebaiknya tidak meremehkan pengetahuan umum dan pengetahuan yang sudah dikuasai sebelumnya.
h. Guru dapat menyampaikan tujuan dari pembelajaran.Agar tercipta semangat belajar yang selaras dan seimbang.
BAB III
Penutup
Ontologi mempelajari keberadaan dalam bentuknya yang paling abstrak.Ontologi merupakan cabang filsafat yang membicarakan tatanan dan struktur kenyataan dalam arti yang luas.
Secara Ontologi ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuaannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia.Objek penelaahan berada dalam batas pra-pengalaman dan pasca pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain.
Dibuat oleh Krn
Adaptasi bahasa dan lingkungan bahasa baru.
Adaptasi bahasa adalah penyesuaian terhadap lingkungan berbahasa; sedangkan lingkungan bahasa baru adalah suatu lingkungan bahasa yang berbeda dengan lingkungan bahasa sebelumnya yang digunakan oleh anak balita dalam berkomunikasi.
Seorang anak akan mengalami adaptasi dalam lingkungan barunya agar dapat berkomunikasi baik dengan sesama anak atau dengan masyarakat disekitar dimana anak bertempat tinggal.
B. Pemerolehan bahasa pertama
Seiring dengan proses pemerolehan bahasa pertama, proses adaptasi bahasa juga dapat berjalan dengan lancar dan cepat karena didorong oleh faktor kebutuhan anak.
Meskipun dengan landasan filosofis yang mungkin berbeda-beda, pada umumnya kebanyakan ahli kini berpandangan bahwa anak dimanapun juga memperoleh bahasa ibunya dengan memakai strategi yang sama.Kesamaan ini tidak hanya dilandasi oleh biologi dan neurologi manusia yang sama tetapi juga oleh pandangan mentalistik yang menyatakan bahwa anak telah dibekali dengan kodrati pada saat lahir. Disamping itu dalam bahasa juga terdapat konsep universal sehingga anak secara mental telah mengetahui kodrat-kodrat yang universal ini.
Perkembangan persepsi ucapan dilakukan dengan cara memperhatikan suara awal, dengan menggunakan teknik habitutation.Pada usia 0-5 bulan, anak mulai menghasilkan kata-kata yang dapat dikenali dalam bahasa mereka seperti ba, ma dan proses pemerolehannya sampai satu tahun. Selanjutnya pada usia 18-20 bulan mereka sudah menguasai 50 kata dan menjelang usia 2 tahun rata-rata anak menguasai 200 – 300 kata.
Pada proses pendengaran usia 18 – 20 bulan bayi memikirkan bunyi-bunyi baru untuk membedakan suara dengan menggunakan design High Amplitude Sucking Pradigm (HASP).Pada usia 6 – 18 bulan dapat diuji dengan menggunakan prosedure conditional headrun yaitu sebuah rancangan bunyi yang diberikan berulang-ulang kepada anak. Pada saat diperkenalkan suatu bunyi yang kontras, bunyi tersebut diikuti dengan aktivitas distraktor visual animasi yang ditempatkan disebelah garis penglihatan bayi.
Pada akhirnya dengan cara ini, anak belajar mengadaptasi perubahan-perubahan suara yang memicu penglihatan visual dan menarik anak-anak untuk memalingkan kepala saat ia mendengar sebuah perubahan suara. Leksikon awal cenderung terlihat bersifat kata benda untuk anak yang belajar bahasa Inggris, yaitu kata benda awal ini cenderung menjadi contoh apa yang disebut basic level categories.
Dalam proses pembentukan kalimat, anak-anak mulai meletakkan kata-kata secara bersama ke dalam kalimat dengan dua kata yang bersifat elementer.Kata-kata yang mereka letakkan dalam tahapan satu kata digabung dalam ungkapan pendek yang biasanya tidak lengkap dengan kata lain tidak memiliki artikel, preposisi atau beberapa tata bahasa lainnya.
Dalam pengungkapan tata bahasa, sama sekali tanpa infleksi tata bahasa.Mereka beranekaragam dalam berbahasa.Keragaman dalam mengungkapkan kalimat dengan kalimat negatif, bertanya disebabkan karena faktor kecepatan dan kemajuan anak serta kemampuan linguistik anak.
Dalam penelitian pemerolehan bahasa anak, khususnya bahasa pertama mencakup beberapa hal pokok yang sangat erat kaitannya dengan proses mental perubahan-perubahan perilaku kebahasaan anak.
C. Teori-Teori Yang berhubungan dengan adaptasi bahasa balita anak pada
lingkungan bahasa baru.
a. Teori tentang Psikolinguistik
Pemerolehan bahasa seiring dengan adaptasi bahasa language adapted adalah salah satu aspek yang dibahasa dalam kajian psikolinguistik.Oleh sebab itu, sebelum membahas lebih jauh tentang pemerolehan bahasa perlu di kemukakan sekilas tentang psikolinguistik.
Clark and Clark, Tanen Hous memberikan batasan tentang psikolinguistik.Mereka mengemukakan bahwa psikolinguistik adalah”The field of linguistics or psychology of language is concerned with the psychological process by which human acquire and use language”.
Berdasarkan pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa untuk psikolinguistik khususnya aspek pemerolehan bahasa adalah sebuah ilmu yang mengetahui bagaimana proses kejiwaan dan pengaruh saraf seseorang dalam memperoleh dan mengadaptasi bahasa serta menggunakan bahasa itu dalam kehidupan sehari-hari.
Telaah mengenai adaptasi bahasa anak dalam lingkungan baru khususnya anak balita sangat erat kaitannya dengan perkembangan anak, baik perubahan motorik maupun tingkah laku kejiwaannya.Yang lebih dominan lagi adalah perkembangan neurologi atau jaringan syaraf termasuk perubahan kejiwaannya.Unsur-unsur ini sangat mempengaruhi proses adaptasi bahasa anak dan terimplikasi pada produksi bahasa.Yang kedua inilah sebagai petunjuk atau tanda bahwa anak pada usia tertentu sudah memiliki bahasa dan sekaligus memproduksinya.
b. Teori tentang pemerolehan bahasa atau Language acquisition
Acquisition adalah bagian dari proses sadar yang identik dengan proses yang digunakan dalam pemerolehan bahasa pertama dalam semua hal.Dikatakannya bahwa saat prosedur acquisition demikian juga tidak sadar terhadap hasil yang diperoleh dari acquisition itu.
Persoalan mendasar dalam pemerolehan bahasa pertama adalah keterkaitan antara pemerolehan bahasa di satu sisi dan produksi bahasa pada sisi lain.Kedua aspek dalam pemerolehan bahasa anak tersebut secara mendasar tidak bisa dipisahkan, sebab ketika anak memperoleh bahasa tentu akan diikuti oleh produksi bahasa yang akan diperolehnya.
Seorang anak dapat menghasilkan satu bahasa melalui bunyi dan bunyi inilah yang ditangkap oleh pendengar sehingga memungkinkan produksi tersebut dapat ditangkap, akhirnya terjadi hubungan antara pembicara dan pendengar.
c.Teori tentang dialek
Istilah dialek berasal dari bahasa Yunani yaitu daelectos.Haugen (1996:924-5) mendefinisikan bahwa dialek adalah variasi bahasa yang digunakan untuk variasi lokal.Selanjutnya ia mengatakan bahwa dialek adalah suatu bahasa diluar dari politik bahasa.Senada dengan itu Kartomihardjo mengatakan bahwa dialek diasosiasikan dengan daerah geografis.
d. Teori tentang dasar-dasar biologi pada tingkah laku komunikasi.
Masalah ini hanya pada (1) bahasa dan otak, (2) neuroanatomi dan neuropatologi, (3) lateriasi fungsi, (4) lokalisasi fungsi inhemisfer dan (5) cara-cara memandang hubungan antara otak dan bahasa.
Aris Toteles dalam Gleason mengatakan bahwa fungsi otak sama halnya dengan radiato pada sistem pendingin.Demikian juga pada abad ke-16 Johan Schen Von Gafernberg menunjukkan gangguan bahasa yang berhubungan dengan bahaya otak yang tidak berhubungan dengan paralisis dysathria yakni kemampuan mengartikulasi ujaran.
Otak akan menjadi kompleks dan merupakan tantangan dalam mamahami bahasa.Kekomplekan itu disebabkan karena otak merupakan sebuah susunan fisik dengan jutaan sel yang saling berhubungan antara satu sel dengan sel lainnya melampaui ribuan sinapsis yang rumit dengan perbedaan alat kimia yang tranmisi.Untuk memahami bahasa harus menghubungkan struktur-struktur ini dengan bentuk-bentuk tingkahlaku manusia.Seperti apa yang paling kompleks diketahui diujarkan dan kemampuan bahasa apa yang diperlukan.Pemahaman dari hubungan ini akan sangat sukar bukan hanya melibatkan kompleksitas melainkan karena otak, seperti fenomina alam yang dikarakteristikan oleh variasi individu.Namun perlu dipahami bahwa sejauhmana ujaran dan kemampuan bahasa adalah konsistenan terhadap sistem sadar kita
D. Batasan penjelasan masalah
Pemerolehan bahasa memiliki pembahasan yang begitu luas, yakni pemerolehan bahasa pertama dan kedua bagi anak dan pemerolehan bahasa pertama dan kedua bagi orang dewasa.Dimakalah ini hanya membahas subjek tertentu yakni masalah adaptasi (penyesuaian diri) bahasa anak usia balita terhadap lingkungan bahasa baru.
Adaptasi di sini maksudnya penyesuain diri anak dalam hal pemerolehan bahasa.Pemerolehan bahasa merupakan prestasi manusia yang paling hebat dan menakjubkan.Oleh sebab itu masalah ini mendapat perhatian yang sangat besar.Pemerolehan bahasa telah ditelaah secara intensif sejak lama.Pada saat itu kita telah mempelajari banyak hal mengenai bagaimana anak-anak berbicara, mengerti dan menggunakan bahasa.Satu hal yang kita ketahui adalah bahwa pemerolehan bahasa sangat banyak ditentukan oleh interaksi rumit aspek-aspek kematangan biologis, kognitif, dan sosial.
Dalam proses perkembangan semua anak manusia normal paling sedikit memperoleh satu bahasa alamiah, jelasnya setiap anak yang normal atau mengalami pertumbuhan yang wajar memperoleh suatu bahasa yaitu bahasa pertama atau bahasa ibu dalam tahun-tahun pertama kehidupannya.Selanjutnya seiring perkembangan atau karena perpindahan orang tua ke suatu tempat.Akhirnya anak harus beradaptasi bahasa di lingkungan barunya.Adaptasi terjadi secara alamiah sampai usia tertentu.
KESIMPULAN
Jadi dapat disimpulkan bahwa seorang anak bila orang tuanya berpindah ke suatu tempat maka anak balita harus mampu beradaptasi bahasa dengan dialek tertentu walaupun sudah ada dialek yang dikuasai sebelumnya.Proses adaptasi bahasa dan dialek pada lingkungan bahasa baru selalu terjadi secara alami dan hal itu merupakan isu sentral bagi setiap pembelajar bahasa.
Ada berbagai teori yang mendukung tercapainya adaptasi bahasa anak usia balita pada lingkungan baru yakni teori psikolinguistik, Teori tentang dialek, Teori tentang dasar-dasar biologi pada tingkah laku komunikasi.
Dibuat oleh Krn
Seorang anak akan mengalami adaptasi dalam lingkungan barunya agar dapat berkomunikasi baik dengan sesama anak atau dengan masyarakat disekitar dimana anak bertempat tinggal.
B. Pemerolehan bahasa pertama
Seiring dengan proses pemerolehan bahasa pertama, proses adaptasi bahasa juga dapat berjalan dengan lancar dan cepat karena didorong oleh faktor kebutuhan anak.
Meskipun dengan landasan filosofis yang mungkin berbeda-beda, pada umumnya kebanyakan ahli kini berpandangan bahwa anak dimanapun juga memperoleh bahasa ibunya dengan memakai strategi yang sama.Kesamaan ini tidak hanya dilandasi oleh biologi dan neurologi manusia yang sama tetapi juga oleh pandangan mentalistik yang menyatakan bahwa anak telah dibekali dengan kodrati pada saat lahir. Disamping itu dalam bahasa juga terdapat konsep universal sehingga anak secara mental telah mengetahui kodrat-kodrat yang universal ini.
Perkembangan persepsi ucapan dilakukan dengan cara memperhatikan suara awal, dengan menggunakan teknik habitutation.Pada usia 0-5 bulan, anak mulai menghasilkan kata-kata yang dapat dikenali dalam bahasa mereka seperti ba, ma dan proses pemerolehannya sampai satu tahun. Selanjutnya pada usia 18-20 bulan mereka sudah menguasai 50 kata dan menjelang usia 2 tahun rata-rata anak menguasai 200 – 300 kata.
Pada proses pendengaran usia 18 – 20 bulan bayi memikirkan bunyi-bunyi baru untuk membedakan suara dengan menggunakan design High Amplitude Sucking Pradigm (HASP).Pada usia 6 – 18 bulan dapat diuji dengan menggunakan prosedure conditional headrun yaitu sebuah rancangan bunyi yang diberikan berulang-ulang kepada anak. Pada saat diperkenalkan suatu bunyi yang kontras, bunyi tersebut diikuti dengan aktivitas distraktor visual animasi yang ditempatkan disebelah garis penglihatan bayi.
Pada akhirnya dengan cara ini, anak belajar mengadaptasi perubahan-perubahan suara yang memicu penglihatan visual dan menarik anak-anak untuk memalingkan kepala saat ia mendengar sebuah perubahan suara. Leksikon awal cenderung terlihat bersifat kata benda untuk anak yang belajar bahasa Inggris, yaitu kata benda awal ini cenderung menjadi contoh apa yang disebut basic level categories.
Dalam proses pembentukan kalimat, anak-anak mulai meletakkan kata-kata secara bersama ke dalam kalimat dengan dua kata yang bersifat elementer.Kata-kata yang mereka letakkan dalam tahapan satu kata digabung dalam ungkapan pendek yang biasanya tidak lengkap dengan kata lain tidak memiliki artikel, preposisi atau beberapa tata bahasa lainnya.
Dalam pengungkapan tata bahasa, sama sekali tanpa infleksi tata bahasa.Mereka beranekaragam dalam berbahasa.Keragaman dalam mengungkapkan kalimat dengan kalimat negatif, bertanya disebabkan karena faktor kecepatan dan kemajuan anak serta kemampuan linguistik anak.
Dalam penelitian pemerolehan bahasa anak, khususnya bahasa pertama mencakup beberapa hal pokok yang sangat erat kaitannya dengan proses mental perubahan-perubahan perilaku kebahasaan anak.
C. Teori-Teori Yang berhubungan dengan adaptasi bahasa balita anak pada
lingkungan bahasa baru.
a. Teori tentang Psikolinguistik
Pemerolehan bahasa seiring dengan adaptasi bahasa language adapted adalah salah satu aspek yang dibahasa dalam kajian psikolinguistik.Oleh sebab itu, sebelum membahas lebih jauh tentang pemerolehan bahasa perlu di kemukakan sekilas tentang psikolinguistik.
Clark and Clark, Tanen Hous memberikan batasan tentang psikolinguistik.Mereka mengemukakan bahwa psikolinguistik adalah”The field of linguistics or psychology of language is concerned with the psychological process by which human acquire and use language”.
Berdasarkan pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa untuk psikolinguistik khususnya aspek pemerolehan bahasa adalah sebuah ilmu yang mengetahui bagaimana proses kejiwaan dan pengaruh saraf seseorang dalam memperoleh dan mengadaptasi bahasa serta menggunakan bahasa itu dalam kehidupan sehari-hari.
Telaah mengenai adaptasi bahasa anak dalam lingkungan baru khususnya anak balita sangat erat kaitannya dengan perkembangan anak, baik perubahan motorik maupun tingkah laku kejiwaannya.Yang lebih dominan lagi adalah perkembangan neurologi atau jaringan syaraf termasuk perubahan kejiwaannya.Unsur-unsur ini sangat mempengaruhi proses adaptasi bahasa anak dan terimplikasi pada produksi bahasa.Yang kedua inilah sebagai petunjuk atau tanda bahwa anak pada usia tertentu sudah memiliki bahasa dan sekaligus memproduksinya.
b. Teori tentang pemerolehan bahasa atau Language acquisition
Acquisition adalah bagian dari proses sadar yang identik dengan proses yang digunakan dalam pemerolehan bahasa pertama dalam semua hal.Dikatakannya bahwa saat prosedur acquisition demikian juga tidak sadar terhadap hasil yang diperoleh dari acquisition itu.
Persoalan mendasar dalam pemerolehan bahasa pertama adalah keterkaitan antara pemerolehan bahasa di satu sisi dan produksi bahasa pada sisi lain.Kedua aspek dalam pemerolehan bahasa anak tersebut secara mendasar tidak bisa dipisahkan, sebab ketika anak memperoleh bahasa tentu akan diikuti oleh produksi bahasa yang akan diperolehnya.
Seorang anak dapat menghasilkan satu bahasa melalui bunyi dan bunyi inilah yang ditangkap oleh pendengar sehingga memungkinkan produksi tersebut dapat ditangkap, akhirnya terjadi hubungan antara pembicara dan pendengar.
c.Teori tentang dialek
Istilah dialek berasal dari bahasa Yunani yaitu daelectos.Haugen (1996:924-5) mendefinisikan bahwa dialek adalah variasi bahasa yang digunakan untuk variasi lokal.Selanjutnya ia mengatakan bahwa dialek adalah suatu bahasa diluar dari politik bahasa.Senada dengan itu Kartomihardjo mengatakan bahwa dialek diasosiasikan dengan daerah geografis.
d. Teori tentang dasar-dasar biologi pada tingkah laku komunikasi.
Masalah ini hanya pada (1) bahasa dan otak, (2) neuroanatomi dan neuropatologi, (3) lateriasi fungsi, (4) lokalisasi fungsi inhemisfer dan (5) cara-cara memandang hubungan antara otak dan bahasa.
Aris Toteles dalam Gleason mengatakan bahwa fungsi otak sama halnya dengan radiato pada sistem pendingin.Demikian juga pada abad ke-16 Johan Schen Von Gafernberg menunjukkan gangguan bahasa yang berhubungan dengan bahaya otak yang tidak berhubungan dengan paralisis dysathria yakni kemampuan mengartikulasi ujaran.
Otak akan menjadi kompleks dan merupakan tantangan dalam mamahami bahasa.Kekomplekan itu disebabkan karena otak merupakan sebuah susunan fisik dengan jutaan sel yang saling berhubungan antara satu sel dengan sel lainnya melampaui ribuan sinapsis yang rumit dengan perbedaan alat kimia yang tranmisi.Untuk memahami bahasa harus menghubungkan struktur-struktur ini dengan bentuk-bentuk tingkahlaku manusia.Seperti apa yang paling kompleks diketahui diujarkan dan kemampuan bahasa apa yang diperlukan.Pemahaman dari hubungan ini akan sangat sukar bukan hanya melibatkan kompleksitas melainkan karena otak, seperti fenomina alam yang dikarakteristikan oleh variasi individu.Namun perlu dipahami bahwa sejauhmana ujaran dan kemampuan bahasa adalah konsistenan terhadap sistem sadar kita
D. Batasan penjelasan masalah
Pemerolehan bahasa memiliki pembahasan yang begitu luas, yakni pemerolehan bahasa pertama dan kedua bagi anak dan pemerolehan bahasa pertama dan kedua bagi orang dewasa.Dimakalah ini hanya membahas subjek tertentu yakni masalah adaptasi (penyesuaian diri) bahasa anak usia balita terhadap lingkungan bahasa baru.
Adaptasi di sini maksudnya penyesuain diri anak dalam hal pemerolehan bahasa.Pemerolehan bahasa merupakan prestasi manusia yang paling hebat dan menakjubkan.Oleh sebab itu masalah ini mendapat perhatian yang sangat besar.Pemerolehan bahasa telah ditelaah secara intensif sejak lama.Pada saat itu kita telah mempelajari banyak hal mengenai bagaimana anak-anak berbicara, mengerti dan menggunakan bahasa.Satu hal yang kita ketahui adalah bahwa pemerolehan bahasa sangat banyak ditentukan oleh interaksi rumit aspek-aspek kematangan biologis, kognitif, dan sosial.
Dalam proses perkembangan semua anak manusia normal paling sedikit memperoleh satu bahasa alamiah, jelasnya setiap anak yang normal atau mengalami pertumbuhan yang wajar memperoleh suatu bahasa yaitu bahasa pertama atau bahasa ibu dalam tahun-tahun pertama kehidupannya.Selanjutnya seiring perkembangan atau karena perpindahan orang tua ke suatu tempat.Akhirnya anak harus beradaptasi bahasa di lingkungan barunya.Adaptasi terjadi secara alamiah sampai usia tertentu.
KESIMPULAN
Jadi dapat disimpulkan bahwa seorang anak bila orang tuanya berpindah ke suatu tempat maka anak balita harus mampu beradaptasi bahasa dengan dialek tertentu walaupun sudah ada dialek yang dikuasai sebelumnya.Proses adaptasi bahasa dan dialek pada lingkungan bahasa baru selalu terjadi secara alami dan hal itu merupakan isu sentral bagi setiap pembelajar bahasa.
Ada berbagai teori yang mendukung tercapainya adaptasi bahasa anak usia balita pada lingkungan baru yakni teori psikolinguistik, Teori tentang dialek, Teori tentang dasar-dasar biologi pada tingkah laku komunikasi.
Dibuat oleh Krn
Langganan:
Postingan (Atom)
