Pendahuluan
The theoretical and Pratical Relevance of Simple Codes in Language Acquisition membahas pengaplikasian secara langsung dalam kelas bahasa kedua.
Peran dan nilai dari kelas memberikan dorongan terhadap pemerolehan terhadap bahasa kedua. Kelas harus ditampilkan sebagai suatu tempat di mana siswa dapat memperoleh masukan yang siswa butuhkan untuk akuisisi. Kelas mungkin lebih superior daripada dunia luar bagi pelajar pemula dan menengah. Bagian ini juga membahas kemungkinan dari peran pembelajaran yang disadari.
Isi
Kasus menarik tentang pemerolehan bahasa inggris sebagai bahasa kedua kasus. Paul (5) yang sukses dan Ricardo (13) yang tidak sukses. Dalam kasus ini Wagner gough dan Hacth, hal ini terjadi karena perbedaan input, bukan karena perbedaan usia.
Yang dapat dilakukan untuk Ricardo:
1. Mengikuti kelas terpisah. Hal ini akan mempersederhana ‘teacher talk’ untuknya (Ricardo).
2. Menyediakan Ricardo kesempatan bertemu native speaker sehingga ia diberi input ‘foreigner-talk’
3. Mengatur berbagai cara agar Ricardo berhubungan dengan pemerolehan ESL yang lain. Hal ini memberinya input, ‘interlanguage’
Dari kasus di atas disinggung ada 3 simple code, yaitu:
1. Teacher-talk : bahasa yang digunakan guru di kelas
2. Foreigner-talk : pembicaraan yang dilakukan penutur asli
3. Interlanguage-talk : pembicaraan oleh pemeroleh bahasa kedua yang lain
Untuk mengetahui apakah simple code membantu pemerolehan bahasa atau tidak digunakan dengan 2 pendekatan
1. The gross approach
Pendekatan ini langsung berusaha menjawab pertanyaan apakah orang yang punya akses terhadap simple codes dapat memeroleh bahasa dengan cepat dan apakah yang tidak mendapat input terhadap simple code lebih sulitbuntuk memperoleh bahasa.
Contoh kasus : seorang professor s.k berusaha memperoleh 4 bahasa berbeda, dengan input sample codes untuk subyek s.k.
Target language Teacher talk Interlanguage talk Foreigner talk
German + + +
French + + -
Hebrew + + +
Ambaric - - +
Sk mendapat input yang sama dalam bahasa Jerman dan Francis untuk teacher talk dan interlanguage talk, sedanng untuk foreigner talk sk mendapat input dalam bahasa Jerman saja. Ia melaporkan dengan jangka waktu belajar yang sama (3 thn) bahwa bahasa Jermannya lebih baik daripada Francis. Ia kesulitan dalam listening comprehension dan pemilihan kata yang benar dalam berkomunikasi dalam bahasa Francis.
Dari kasus ini terlihat bahwa foreigner- talk berguna untuk level bawah-menengah, sedang foreigner –talk menjembatani sampai ke menengah atas-mahir.
Sk mendapat 3 input simple codes untuk bahasa Yahudi dan tidak mendapat input teacher-talk dan interlanguage-talk untuk bahasa Ambaric. Selam 2 tahun sk menggunakan bahasa Ambaric hanya ketika berkomunikasi dengan orang Ethopia (yang hanya bisa berbahasa Ambaric). Ia melaporkan penggunaan bahasa Ambaricnya rendah dan sebaliknya untuk bahasa Yahudi.
Perbedaan Ambaric –Yahudi tersebut konsisten dengan hipotesis bahwa simple code teacher-talk dan interlanguage –talk sangat berguna dalam menguasai level awal kelancaran berbahasa.
2. Lingusitik analysis of Simple Code
Pendekatan ini menentukan apakah simple code cocok secara llinguistik untuk pemerolehan berbahasa. Untuk itu akan dibahas terlebih dahulu tentang caracteker speech. Caretaker speech: bahasa yang ditujukan untuk anak kecil dalam memeroleh bahasa pertamanya.
Caretaker Speech and Language Acquisition
Berdasarkan banyak literature bahwa bahasa untuk anak dalam memperoleh bahasa pertamanya berupa kalimat pendek, mudah dipahami, sedikit anak kalimat, kosakata, dan topic yang terbatas. Jika, caretaker speech dapat membantu pemerolehan bahasa anak, simple codes mungkin bisa melakukan hal yang sama untuk pemerolehan bahasa kedua.
Ada 3 fakta pemerolehan bahasa anak dan caretaker speech:
1. Penemuan bahwa struktur (tata bahasa) diperoleh anak dalam urutan yang relative dapat diprediksi.
2. Kompleksitas sintaksisdari caretaker-speech tidak tumbuh dalam proporsi yang pasti terhadap kompetensi anak (Newport et all, 1977 dan Cross 1977). Hal ini terlihat caretaker-speech yang lebih sederhana dan tidak “benar-benar dimaksudkan “ untuk perkembangan kompetensi anak.
3. Caretaker speech yang relative sederhana ditujukan untuk berkomunikasi dengan anak , untuk mengontrol tingkah laku dan untuk pemahaman anak terhadap apa yang mereka (pengasuh) ucapkan.
Tiga penemuan ini mengarah pada generalisasi mengenai hubungan input dan perkembangan tata bahasa anak. Kemajuan anak memahami sedikit melebihi (usia) mereka. Hal ini karena adanya bantuan konteks yang diberikan caretaker speech.
Simple Codes dan second Language Acquisition
Apakah simple codes memberi efek yang sama terhadap pemerolehan bahasa kedua seperti halnya caretaker speech terhadap pemerolehan bahasa pertama anak?
Dari data dan sumber yang ada ditemukan bahwa simple codes dikondisikan hampir sama tingkatannya dengan caretaker specch. Simple codes lebih sederhana daripada pembicaraan native-speaker-native speaker. Dan tidak diarahkan dengan sengaja untuk meningkatkan level pemerolehan bahasa.
Penyerdehanaan ini dapat diihat dari aspek:
1. Rate
Input teacher-talk and interklanguage-talk dilakukan lebih lambat daripada pembicaraan sesame native-speaker
2. Lexicon
Teacher-talk yang diterima anak ada pada tipe yang lebih rendah
3. Well-formedness
Simple codes dibuat lebih bagus untuk pemahaman anak
4. Length
Simple codes dalam hal ini teacher-talk dilakukan lebih pendek daripada pembicaraan sesame native speaker
5. Proporsional complexity
Teacher talk tidak serumit pembicaraan sesame native speaker
Data di atas menunjukkan bahwa simple codes dibuat pada tingkat yang mungkin sama dengan tingkat caretaker speech.
Jika caretaker membantu pemerolehan bahasa, bisa saja simple codes juga berguna dengan cara yang sama. Guru, yang lebih mahir dalam berbahasa kedua dan penutur asli yang berkomunikasi dengan pemeroleh bahasa mungkin secara tidak sadar memberi input yang sangat berguna.
Re – analysis of Classroom Exercise
Ada dua alternative latihan kelas : latihan grammar dan latihan komunikatif. Latihan grammar ini berfokus pada pemerolehan pengetahuan formal, sedang latihan komunikatif berfokus pada pemerolehan pengetahuan yang secara tidak sadar (acquired).
Latihan yang berfokus pada acquitision (pemerolehan) mungkin mencapai target yang ditentukan. Tapi bila input yang diberikan tidak cukup syarat terjadinya pemerolehan maka hasil yang didapat tidak memuaskan.
Begitu juga dengan latihan yang focus pada learning (belajar) mungkin akan bermuara pada kebosanan. Target akan sulit dicapai untuk kelas besar.
Akhirnya, latihan yang menekankan benar atau salah sering membuat pembelajar (anak) bertahan (tidak mau salah, hingga memilih diam) dan ini tidak ideal untuk memperoleh bahasa. Penggunaan simple codes di situasi yang focus pada komunikasi mungkin bisa memperkecil keengganan siswa hingga pemerolehan bahasa menjadi lebih efektif.
Some final comment: a summer s an intermediate French student
Penulis menceritakan pengalaman belajar bahasa Francis. Guru bahasa francis nya melakukan percakapan dengan siswa untuk menjelaskan tata bahasa, kosakata, dalam latihan, anekdot, manajemen kelas dan lain-lain dalam bahasa francis. Dan siswa hampir memahami apa pun yang diucapkannya (walaupun sebagai bahasa kedua). Teacher talk di sini memotivasi siswa belajar lebih (untuk bisa memahami pembicaraan sang guru).
Kemanjuran simple code untuk memberi input bagi pemerolehan bahasa merupakan suatu isu empiris yang bisa di uji dengan berbagai pendekatan. Dan sudah ada cukup bukti untuk berhipotesis bahwa simple codes sangat membantu pemeroleh bahasa pada tahap awal dan menengah. Anak atau dewasa, bahasa pertama atau bahasa kedua.
Simpulan
Dari uraian di atas bahwa simple codes untuk member input bagi pemerolehan bahasa merupakan isu empiris yang bisa diuji dengan berbagai pendekatan. Sudah cukup bukti untuk menghipotesis bahwa simple codes sangat membantu pemeroleh bahasa pada tahap awal dan menengah anak atau dewasa, bahasa pertama atau bahasa kedua, sehingga dapat disimpulkan bahwa masukan atau input tidak hanya sangat bermanfaat tetapi juga sangat mendasar.
Dikutip dari buku Psikolinguistik
The theoretical and Pratical Relevance of Simple Codes in Language Acquisition membahas pengaplikasian secara langsung dalam kelas bahasa kedua.
Peran dan nilai dari kelas memberikan dorongan terhadap pemerolehan terhadap bahasa kedua. Kelas harus ditampilkan sebagai suatu tempat di mana siswa dapat memperoleh masukan yang siswa butuhkan untuk akuisisi. Kelas mungkin lebih superior daripada dunia luar bagi pelajar pemula dan menengah. Bagian ini juga membahas kemungkinan dari peran pembelajaran yang disadari.
Isi
Kasus menarik tentang pemerolehan bahasa inggris sebagai bahasa kedua kasus. Paul (5) yang sukses dan Ricardo (13) yang tidak sukses. Dalam kasus ini Wagner gough dan Hacth, hal ini terjadi karena perbedaan input, bukan karena perbedaan usia.
Yang dapat dilakukan untuk Ricardo:
1. Mengikuti kelas terpisah. Hal ini akan mempersederhana ‘teacher talk’ untuknya (Ricardo).
2. Menyediakan Ricardo kesempatan bertemu native speaker sehingga ia diberi input ‘foreigner-talk’
3. Mengatur berbagai cara agar Ricardo berhubungan dengan pemerolehan ESL yang lain. Hal ini memberinya input, ‘interlanguage’
Dari kasus di atas disinggung ada 3 simple code, yaitu:
1. Teacher-talk : bahasa yang digunakan guru di kelas
2. Foreigner-talk : pembicaraan yang dilakukan penutur asli
3. Interlanguage-talk : pembicaraan oleh pemeroleh bahasa kedua yang lain
Untuk mengetahui apakah simple code membantu pemerolehan bahasa atau tidak digunakan dengan 2 pendekatan
1. The gross approach
Pendekatan ini langsung berusaha menjawab pertanyaan apakah orang yang punya akses terhadap simple codes dapat memeroleh bahasa dengan cepat dan apakah yang tidak mendapat input terhadap simple code lebih sulitbuntuk memperoleh bahasa.
Contoh kasus : seorang professor s.k berusaha memperoleh 4 bahasa berbeda, dengan input sample codes untuk subyek s.k.
Target language Teacher talk Interlanguage talk Foreigner talk
German + + +
French + + -
Hebrew + + +
Ambaric - - +
Sk mendapat input yang sama dalam bahasa Jerman dan Francis untuk teacher talk dan interlanguage talk, sedanng untuk foreigner talk sk mendapat input dalam bahasa Jerman saja. Ia melaporkan dengan jangka waktu belajar yang sama (3 thn) bahwa bahasa Jermannya lebih baik daripada Francis. Ia kesulitan dalam listening comprehension dan pemilihan kata yang benar dalam berkomunikasi dalam bahasa Francis.
Dari kasus ini terlihat bahwa foreigner- talk berguna untuk level bawah-menengah, sedang foreigner –talk menjembatani sampai ke menengah atas-mahir.
Sk mendapat 3 input simple codes untuk bahasa Yahudi dan tidak mendapat input teacher-talk dan interlanguage-talk untuk bahasa Ambaric. Selam 2 tahun sk menggunakan bahasa Ambaric hanya ketika berkomunikasi dengan orang Ethopia (yang hanya bisa berbahasa Ambaric). Ia melaporkan penggunaan bahasa Ambaricnya rendah dan sebaliknya untuk bahasa Yahudi.
Perbedaan Ambaric –Yahudi tersebut konsisten dengan hipotesis bahwa simple code teacher-talk dan interlanguage –talk sangat berguna dalam menguasai level awal kelancaran berbahasa.
2. Lingusitik analysis of Simple Code
Pendekatan ini menentukan apakah simple code cocok secara llinguistik untuk pemerolehan berbahasa. Untuk itu akan dibahas terlebih dahulu tentang caracteker speech. Caretaker speech: bahasa yang ditujukan untuk anak kecil dalam memeroleh bahasa pertamanya.
Caretaker Speech and Language Acquisition
Berdasarkan banyak literature bahwa bahasa untuk anak dalam memperoleh bahasa pertamanya berupa kalimat pendek, mudah dipahami, sedikit anak kalimat, kosakata, dan topic yang terbatas. Jika, caretaker speech dapat membantu pemerolehan bahasa anak, simple codes mungkin bisa melakukan hal yang sama untuk pemerolehan bahasa kedua.
Ada 3 fakta pemerolehan bahasa anak dan caretaker speech:
1. Penemuan bahwa struktur (tata bahasa) diperoleh anak dalam urutan yang relative dapat diprediksi.
2. Kompleksitas sintaksisdari caretaker-speech tidak tumbuh dalam proporsi yang pasti terhadap kompetensi anak (Newport et all, 1977 dan Cross 1977). Hal ini terlihat caretaker-speech yang lebih sederhana dan tidak “benar-benar dimaksudkan “ untuk perkembangan kompetensi anak.
3. Caretaker speech yang relative sederhana ditujukan untuk berkomunikasi dengan anak , untuk mengontrol tingkah laku dan untuk pemahaman anak terhadap apa yang mereka (pengasuh) ucapkan.
Tiga penemuan ini mengarah pada generalisasi mengenai hubungan input dan perkembangan tata bahasa anak. Kemajuan anak memahami sedikit melebihi (usia) mereka. Hal ini karena adanya bantuan konteks yang diberikan caretaker speech.
Simple Codes dan second Language Acquisition
Apakah simple codes memberi efek yang sama terhadap pemerolehan bahasa kedua seperti halnya caretaker speech terhadap pemerolehan bahasa pertama anak?
Dari data dan sumber yang ada ditemukan bahwa simple codes dikondisikan hampir sama tingkatannya dengan caretaker specch. Simple codes lebih sederhana daripada pembicaraan native-speaker-native speaker. Dan tidak diarahkan dengan sengaja untuk meningkatkan level pemerolehan bahasa.
Penyerdehanaan ini dapat diihat dari aspek:
1. Rate
Input teacher-talk and interklanguage-talk dilakukan lebih lambat daripada pembicaraan sesame native-speaker
2. Lexicon
Teacher-talk yang diterima anak ada pada tipe yang lebih rendah
3. Well-formedness
Simple codes dibuat lebih bagus untuk pemahaman anak
4. Length
Simple codes dalam hal ini teacher-talk dilakukan lebih pendek daripada pembicaraan sesame native speaker
5. Proporsional complexity
Teacher talk tidak serumit pembicaraan sesame native speaker
Data di atas menunjukkan bahwa simple codes dibuat pada tingkat yang mungkin sama dengan tingkat caretaker speech.
Jika caretaker membantu pemerolehan bahasa, bisa saja simple codes juga berguna dengan cara yang sama. Guru, yang lebih mahir dalam berbahasa kedua dan penutur asli yang berkomunikasi dengan pemeroleh bahasa mungkin secara tidak sadar memberi input yang sangat berguna.
Re – analysis of Classroom Exercise
Ada dua alternative latihan kelas : latihan grammar dan latihan komunikatif. Latihan grammar ini berfokus pada pemerolehan pengetahuan formal, sedang latihan komunikatif berfokus pada pemerolehan pengetahuan yang secara tidak sadar (acquired).
Latihan yang berfokus pada acquitision (pemerolehan) mungkin mencapai target yang ditentukan. Tapi bila input yang diberikan tidak cukup syarat terjadinya pemerolehan maka hasil yang didapat tidak memuaskan.
Begitu juga dengan latihan yang focus pada learning (belajar) mungkin akan bermuara pada kebosanan. Target akan sulit dicapai untuk kelas besar.
Akhirnya, latihan yang menekankan benar atau salah sering membuat pembelajar (anak) bertahan (tidak mau salah, hingga memilih diam) dan ini tidak ideal untuk memperoleh bahasa. Penggunaan simple codes di situasi yang focus pada komunikasi mungkin bisa memperkecil keengganan siswa hingga pemerolehan bahasa menjadi lebih efektif.
Some final comment: a summer s an intermediate French student
Penulis menceritakan pengalaman belajar bahasa Francis. Guru bahasa francis nya melakukan percakapan dengan siswa untuk menjelaskan tata bahasa, kosakata, dalam latihan, anekdot, manajemen kelas dan lain-lain dalam bahasa francis. Dan siswa hampir memahami apa pun yang diucapkannya (walaupun sebagai bahasa kedua). Teacher talk di sini memotivasi siswa belajar lebih (untuk bisa memahami pembicaraan sang guru).
Kemanjuran simple code untuk memberi input bagi pemerolehan bahasa merupakan suatu isu empiris yang bisa di uji dengan berbagai pendekatan. Dan sudah ada cukup bukti untuk berhipotesis bahwa simple codes sangat membantu pemeroleh bahasa pada tahap awal dan menengah. Anak atau dewasa, bahasa pertama atau bahasa kedua.
Simpulan
Dari uraian di atas bahwa simple codes untuk member input bagi pemerolehan bahasa merupakan isu empiris yang bisa diuji dengan berbagai pendekatan. Sudah cukup bukti untuk menghipotesis bahwa simple codes sangat membantu pemeroleh bahasa pada tahap awal dan menengah anak atau dewasa, bahasa pertama atau bahasa kedua, sehingga dapat disimpulkan bahwa masukan atau input tidak hanya sangat bermanfaat tetapi juga sangat mendasar.
Dikutip dari buku Psikolinguistik

Very useful. thanks a lot for the translating
BalasHapus